Assalamu alaikum, +62 819-1410-5095
Deskripsi Masalah:
Sebagai Muslim yang sehat lahir batin, diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Di penghujung Ramadhan, umat Islam diwajibkan pula untuk membayar zakat fitrah. Di suatu daerah, ada seorang Muslim yang memberikan zakat fitrah kepada guru ngajinya yang serba berkecukupan.
Pertanyaan:
Apakah ada dalil yang memperbolehkan pemberian zakat fitrah kepada guru ngaji seperti dalam deskripsi?
Jawaban:
Tidak ada dalil yang secara eksplisit memperbolehkan
pemberian zakat fitrah kepada guru ngaji.
Namun, ulama Syafi'iyah memasukkan guru ngaji, kyai, dan
santri dalam konsep fuqoro' masakin (orang-orang fakir dan miskin). Oleh karena
itu, mereka boleh menerima zakat maal/fitrah jika memenuhi kriteria fuqoro'
masakin.
Keterangan penting:
- Pendapat
sebagian ulama yang dikutip oleh Imam Qoffal belum diketahui secara pasti
siapa yang dimaksud. Ada kemungkinan besar mengarah pada Imam
Hasan dan Imam Anas bin Malik.
- Pendapat
tersebut menurut Jumhur ulama (mayoritas ulama) tidak mu'tabar (tidak
dianggap). Pendapat ini didukung oleh mufti Hadramaut, karena
pendapat tersebut di luar lingkup madzhab empat.
- Namun,
ada juga yang sependapat dengan pendapat kutipan Imam Qoffal, seperti
Syeikh Hasanain Makhluf dan ulama mu'ashirin Mesir yang memfatwakan dan
memilih pendapat tersebut.
- Pendapat
sebagian ulama yang dinukil oleh Imam Qoffal dan ditanggapi oleh para
ulama itu dalam konteks zakat maal. Sedangkan zakat fitrah belum
ada penjelasan lebih lanjut.
- Perumus
dan para musyawirin Bahtsul Masail PWNU Jatim tidak berani memasukkan
dalam khilaf ini. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan perbedaan
pendapat, seperti dalam madzhab Maliki yang menyatakan bahwa zakat fitrah
hanya boleh disalurkan kepada fuqoro' masakin.
- Mashrof
zakat fitrah terbatas pada fuqoro' masakin, sedangkan mashrof
zakat maal, seperti fisabilillah yang termasuk di dalamnya para ustadz,
mu'adzin dll, tidak menjadi mashrof dalam zakat fitrah.
- Demi
menjaga kehati-hatian, maka untuk zakat fitrah hanya boleh disalurkan
kepada fuqoro' masakin. Sedangkan ustadz & kyai yang aghniya'
(kaya), tidak boleh menerima zakat fitrah.
روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 2 / ص 309)
(فرع)
المعتبر في عجزه عن الكسب عجزه عن كسب يقع موقعا من عن أصل الكسب والمعتبر كسب يليق بحاله ومروءته ولو قدر على الكسب إلا أنه مشتغل ببعض العلوم الشرعية ولو أقبل على الكسب لانقطع عن التحصيل حلت له الزكاة أما المعطل المعتكف في المدرسة ومن لا يتأتى منه التحصيل فلا تحل لهما الزكاة مع القدرة على الكسب.
(Cabang)
Yang dimaksud dengan "tidak mampu berusaha"
adalah tidak mampu dalam usaha yang setara dengan usaha orang-orang yang mampu.
Yang dimaksud dengan usaha adalah usaha yang sesuai dengan keadaan dan
martabatnya.
Sekalipun dia mampu berusaha, tetapi dia sibuk dengan
beberapa ilmu syar'i, dan jika dia fokus pada usaha, dia akan terhenti dari
menuntut ilmu, maka zakat halal baginya.
Adapun orang yang bermalas-malasan, berdiam diri di
sekolah, dan orang yang tidak mampu menuntut ilmu, maka zakat tidak halal bagi
mereka meskipun mereka mampu berusaha.
Penjelasan:
Seseorang dianggap tidak mampu bekerja dan berhak
menerima zakat jika:
- Tidak
mampu mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini dipertimbangkan dengan
kemampuan, kondisi fisik, dan status sosialnya.
- Tidak
mampu melakukan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya karena
faktor-faktor tertentu.
Contoh:
- Seorang
sarjana yang tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya
karena keterbatasan lapangan kerja.
- Seorang
pekerja yang mengalami kecelakaan dan tidak dapat bekerja lagi karena
cacat fisik.
- Seorang
lansia yang tidak mampu bekerja karena faktor usia dan kesehatan.
Seseorang yang mampu bekerja, tetapi:
- Memilih
untuk fokus mempelajari ilmu agama dengan tekun, dan
- Tidak
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber lain, maka berhak
menerima zakat.
Contoh:
- Seorang
santri yang mondok di pesantren dan fokus mempelajari ilmu agama.
- Seorang
mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan agama dan tidak memiliki
penghasilan lain.
Seseorang yang tidak bekerja, tetapi:
- Mampu
bekerja dan tidak memiliki alasan yang sah untuk tidak bekerja, maka tidak
berhak menerima zakat.
Contoh:
- Orang
yang malas bekerja dan memilih hidup dari bantuan orang lain.
- Orang
yang memiliki kemampuan bekerja tetapi memilih untuk tidak bekerja.
Kesimpulan:
Ketidakmampuan bekerja dalam konteks penerimaan zakat
diartikan sebagai ketidakmampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang
menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, dengan
mempertimbangkan keahlian, kondisi fisik, status sosial, dan pilihan hidup
seseorang.
(وأما)
ما لا يليق به فهو كالمعدوم قالوا ولو قدر علي كسب يليق بحاله الا أنه مشتغل بتحصيل بعض العلوم الشرعية بحيث لو اقبل على الكسب لانقطع عن التحصيل حلت له الزكاة لان تحصيل العلم فرض كفاية (وأما) من لا يتأنى منه التحصيل فلا تحل له الزكاة إذا قدر على الكسب وان كان مقيما بالمدرسة هذا الذى ذكرناه هو الصحيح المشهور وذكر الدارمي في المشتغل بتحصيل العلم ثلاثة أوجه: (أحدها) يستحق وان قدر علي الكسب، (والثاني) لا، (والثالث) ان كان نجيبا يرجى تفقهه ونفع المسلمين به استحق والا فلا، ذكرها الدارمي في باب صدقة التطوع وأما من أقبل علي نوافل العبادات والكسب يمنعه منها أو من استغراق الوقت بها فلا تحل له الزكاة بالاتفاق لان مصلحة عبادته قاصرة عليه بخلاف المشتغل بالعلم قال اصحابنا وإذا لم يجد الكسوب من يستعمله حلت له الزكاة لانه عاجز.
المجموع شرح المهذب
- (Jilid 6 / Halaman 172)
(Adapun) pekerjaan yang tidak pantas
baginya, maka hukumnya sama dengan tidak memiliki pekerjaan. Para ulama
berkata, "Sekalipun dia mampu bekerja yang pantas baginya, tetapi dia
sibuk menuntut ilmu syar'i, sehingga jika dia fokus pada pekerjaan, dia akan terhenti
dari menuntut ilmu, maka zakat halal baginya. Karena menuntut ilmu adalah
fardhu kifayah."
(Adapun) orang yang tidak mampu menuntut
ilmu, maka zakat tidak halal baginya jika dia mampu bekerja, meskipun dia
tinggal di sekolah.
Pendapat yang kami sebutkan ini adalah pendapat yang
sahih dan terkenal. Ad-Darimi menyebutkan tiga pendapat tentang orang yang
sibuk menuntut ilmu:
(Pertama) dia berhak menerima zakat
meskipun dia mampu bekerja.
(Kedua) dia tidak berhak menerima zakat.
(Ketiga) jika dia cerdas dan diharapkan
dapat memahami ilmu dan bermanfaat bagi umat Islam, maka dia berhak menerima
zakat.
Ad-Darimi menyebutkan pendapat ini dalam bab sedekah
sunnah.
(Adapun) orang yang sibuk dengan ibadah
sunnah dan pekerjaan yang menghalanginya dari ibadah sunnah atau menghabiskan
waktunya dengan ibadah sunnah, maka zakat tidak halal baginya menurut
kesepakatan para ulama. Karena manfaat ibadahnya hanya untuk dirinya sendiri,
berbeda dengan orang yang sibuk menuntut ilmu.
Sahabat-sahabat kami berkata, "Jika orang yang mampu
bekerja tidak menemukan orang yang mempekerjakannya, maka zakat halal baginya
karena dia tidak mampu."
PENJELASAN
Seseorang yang menuntut ilmu agama dan tidak memiliki
sumber penghasilan lain berhak menerima zakat. Hal ini karena menuntut ilmu
agama merupakan kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang bermanfaat bagi
seluruh umat Islam.
Syarat-syarat untuk menerima zakat sebagai penuntut ilmu
agama:
- Tidak
memiliki sumber penghasilan lain.
- Mampu
dan berpotensi untuk menjadi ahli agama yang bermanfaat bagi umat.
- Sungguh-sungguh
dalam menuntut ilmu agama.
Orang-orang yang tidak berhak menerima zakat:
- Orang
yang mampu bekerja dan mendapatkan penghasilan, tetapi memilih untuk fokus
pada ibadah sunnah.
- Orang
yang tidak mampu belajar dan tidak memiliki potensi untuk menjadi ahli
agama.
Kesimpulan:
Seseorang yang menuntut ilmu agama berhak menerima zakat
jika memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.
وَأَمَّا قَوْله تَعَالَى :
{ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ } عِبَارَةً عَنْ جَمِيعِ الْقُرَبِ فَيَدْخُلُ فِيهِ كُلُّ مَنْ سَعَى فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَسَبِيلِ الْخَيْرَاتِ إذَا كَانَ مُحْتَاجًا.
Makna "Fi Sabilillah" dalam Ayat Zakat
Fi sabilillah dalam ayat zakat memiliki makna yang
luas, yaitu mencakup semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan jalan
kebaikan.
Oleh karena itu, semua orang yang berjuang di jalan Allah
SWT dan membutuhkan bantuan berhak menerima zakat.
درر الحكام شرح غرر الأحكام في الفقه الحنفي - (ج 2 / ص 397)
( قَوْلُهُ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ )
أَقُولُ كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْدِلَ عَنْ اللَّامِ إلَى فِي كَمَا وَرَدَ بِهِ النَّصُّ كَذَلِكَ فِي بَاقِي الْأَرْبَعَةِ الْأَخِيرَةِ وَهُوَ الْمُكَاتَبُ وَالْغَارِمُ وَابْنُ السَّبِيلِ لَمَّا قَالَ فِي الْكَافِي وَغَيْرِهِ إنَّمَا عَدَلَ عَنْ اللَّامِ إلَى فِي فِي الْأَرْبَعَةِ الْأَخِيرَةِ لِلْإِيذَانِ بِأَنَّهُمْ أَرْسَخُ فِي اسْتِحْقَاقِ التَّصَدُّقِ عَلَيْهِمْ مِمَّنْ سَبَقَ ذِكْرُهُ ؛ لِأَنَّ فِي لِلْوِعَاءِ فَنَبَّهَ عَلَى أَنَّهُمْ أَحِقَّاءٌ بِأَنْ تُوضَعَ فِيهِمْ الصَّدَقَاتُ ( قَوْلُهُ : هُوَ مُنْقَطِعُ الْغُزَاةِ إلَخْ ) قَالَ فِي الظَّهِيرِيَّةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ طَلَبَةُ الْعِلْمِ وَكَذَا فِي الْمَرْغِينَانِيِّ وَقَالَ السُّرُوجِيُّ قُلْتُ بَعِيدٌ ، فَإِنَّ الْآيَةَ نَزَلَتْ وَلَيْسَ هُنَاكَ قَوْمٌ يُقَالُ لَهُمْ طَلَبَةُ عِلْمٍ اهـ قُلْتُ وَاسْتِبْعَادُهُ بَعِيدٌ ؛ لِأَنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ لَيْسَ إلَّا اسْتِفَادَةَ الْأَحْكَامِ وَهَلْ يَبْلُغُ طَالِبُ عِلْمٍ رُتْبَةَ مَنْ لَازَمَ صُحْبَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِتَلَقِّي الْأَحْكَامِ عَنْهُ كَأَصْحَابِ الصُّفَّةِ فَالتَّفْسِيرُ بِطَالِبِ الْعِلْمِ وَجِيهٌ خُصُوصًا قَدْ قَالَ فِي الْبَدَائِعِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ جَمِيعُ الْقُرَبِ فَيَدْخُلُ فِيهِ كُلُّ مَنْ سَعَى فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَسَبِيلِ الْخَيْرَاتِ إذَا كَانَ مُحْتَاجًا اهـ ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ الْخِلَافَ بَيْنَ الصَّاحِبَيْنِ إنَّمَا هُوَ فِي التَّفْسِيرِ وَلَا خِلَافَ فِي الْحُكْمِ لِلِاتِّفَاقِ عَلَى أَنَّهُ إنَّمَا تُعْطَى الْأَصْنَافُ كُلُّهُمْ بِشَرْطِ الْفَقْرِ إلَّا فِي الْعَامِلِ فَمُنْقَطِعُ الْحَاجِّ الْفَقِيرِ يُعْطَى بِالِاتِّفَاقِ كَمَا فِي الْفَتْحِ.
1. Penggunaan Huruf Lam dan Fi:
- Pada
frasa "fi sabilillah" untuk empat kategori terakhir (mukatab,
gharim, ibn sabil, dan fi sabilillah), terdapat perbedaan makna dalam
penggunaan huruf lam dan fi.
- Huruf
lam menunjukkan bahwa zakat diberikan kepada orang yang sudah
berada di jalan Allah (seperti mukatab yang ingin memerdekakan
diri).
- Huruf
fi menunjukkan bahwa zakat diberikan untuk membantu mereka agar
dapat memasuki jalan Allah (seperti gharim yang terlilit hutang
karena alasan syar'i).
2. Makna "Fi Sabilillah":
- Para
ulama berbeda pendapat tentang makna "fi sabilillah" dalam ayat
zakat:
- Pendapat
Pertama: "Fi sabilillah" diartikan sebagai mujahidin
yang berjuang di jalan Allah dengan jihad fisik.
- Pendapat
Kedua: "Fi sabilillah" diartikan sebagai semua
orang yang berjuang di jalan kebaikan, termasuk mujahidin, penuntut
ilmu agama, penyebar dakwah, dan lain sebagainya.
3. "Fi Sabilillah" dan Penuntut Ilmu:
- Imam
ash-Shafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa penuntut
ilmu termasuk dalam kategori "fi sabilillah".
- Alasannya:
- Menuntut
ilmu adalah fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif bagi
umat Islam.
- Penuntut
ilmu berjuang untuk mempertahankan dan menyebarkan agama Islam.
- Penuntut
ilmu membutuhkan bantuan untuk memfokuskan diri pada
studinya.
4. Kesimpulan:
- Penggunaan
huruf lam dan fi dalam "fi sabilillah" memiliki makna yang
berbeda.
- "Fi
sabilillah" memiliki makna yang luas, yaitu semua orang yang
berjuang di jalan kebaikan.
- Ada
perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah penuntut ilmu
termasuk dalam kategori "fi sabilillah".
تفسير المنير - (ج 1 / ص 244)
(فى سبيل الله)
ويجوز للغازى ان يأخذ من مال الزكاة وإن كان غنيا كما هو مذهب الشافعية ومالك واسحق وقال أبو حنيفة وصاحباه لا يعطى إلا إذا كان محتاجا ونقل القفال عن بعض الفقهاء أنهم أجازوا صرف الصدقات إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المسجد لان قوله تعالى فى سبيل الله عام فى الكل.
(Di Jalan Allah)
Mujahid dan Zakat:
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang
bolehkah mujahid yang kaya menerima zakat:
- Pendapat
Pertama: Mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi'i, Imam Malik, dan
Imam Ishaq, berpendapat bahwa mujahid boleh menerima zakat
meskipun dia kaya. Alasannya adalah karena jihad merupakan suatu
perjuangan yang membutuhkan banyak biaya, dan mujahid berhak mendapatkan
bantuan untuk menunaikan kewajibannya tersebut.
- Pendapat
Kedua: Imam Abu Hanifah dan kedua muridnya berpendapat
bahwa mujahid tidak boleh menerima zakat kecuali jika dia fakir
(miskin). Alasannya adalah karena zakat diutamakan untuk membantu
orang-orang yang membutuhkan.
Penggunaan Zakat untuk Kebaikan:
Imam Qaffal meriwayatkan dari beberapa ulama bahwa mereka membolehkan
penggunaan zakat untuk semua tujuan kebaikan, seperti:
- Mengkafani
orang mati
- Membangun
benteng
- Membangun
masjid
Pendapat ini didasarkan pada ayat Al-Qur'an yang menyatakan
bahwa zakat boleh digunakan "fi sabilillah", yang diartikan sebagai semua
tujuan kebaikan.
أﻫﻞ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ أﻯ ﺍﻟﻐﺰﺍﺓ ﺍﻟﻤﺘﻄوّعوﻥ ﺑﺎﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭإﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ أﻏﻨﻴﺎﺀ إﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻃﻠﺒﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻭﺭﻭّّﺍﺩ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﻃﻼّﺏ ﺍﻟﻌﺪﻝ ﻭﻣﻘﻴمو ﺍلإﻧﺼﺎﻑ ﻭﺍﻟﻮﻋﻆ ﻭﺍلإﺭﺷﺎﺩ ﻭﻧﺎﺻﺮو ﺍﻟﺪﻳﻦ الحنيف ﺍهـ
"Ahlus Sabilillah adalah para mujahidin yang berjihad secara sukarela, termasuk:
• Para pejuang yang bertempur di jalan Allah, meskipun mereka kaya.
• Para penuntut ilmu agama.
• Penyebar dakwah Islam.
• Pencari keadilan.
• Penegak hukum dan keadilan.
• Penyuluh dan pembimbing.
• Pembela agama Islam.
Bolehkah Zakat Digunakan untuk Membangun Masjid?
Pertanyaan tentang bolehkah menggunakan zakat untuk
membangun masjid dan kegiatan serupa telah kami tinjau dan kami menyimpulkan
bahwa hal tersebut diperbolehkan.
Pendapat ini didasarkan pada beberapa pertimbangan:
1. Pendapat Ulama Muslim:
Beberapa ulama Muslim membolehkan penggunaan zakat untuk
membangun masjid dan kegiatan serupa. Pendapat ini didasarkan pada ayat
Al-Qur'an yang menyatakan "Fi Sabilillah" (di jalan Allah) dalam ayat
tentang zakat (QS. At-Taubah: 60).
2. Tafsir Imam Fakhru ad-Din ar-Razi:
Imam Fakhru ad-Din ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa
makna "Fi Sabilillah" tidak hanya terbatas pada para pejuang. Beliau
mengatakan bahwa kata "Fi Sabilillah" bersifat umum dan mencakup
semua bentuk kebaikan, termasuk membangun masjid.
3. Pendapat Ibnu Qudamah:
Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni menyatakan bahwa
membangun masjid termasuk dalam kategori "Fi Sabilillah". Beliau
beralasan bahwa membangun masjid merupakan bentuk kebaikan yang bermanfaat bagi
umat Islam.
4. Pendapat Ansa dan Hasan al-Bashri:
Ansa dan Hasan al-Bashri, dua ulama terkemuka, juga
membolehkan penggunaan zakat untuk membangun masjid. Mereka beralasan bahwa
membangun masjid sama seperti membangun jalan dan jembatan, yang termasuk dalam
kategori "Fi Sabilillah".
5. Pendapat صاحب شرح كتاب الروض
النضير:
Penulis شرح كتاب الروض النضير
menyetujui pendapat yang membolehkan penggunaan zakat untuk membangun masjid.
Beliau beralasan bahwa "Fi Sabilillah" mencakup semua jenis ketaatan
kepada Allah SWT, termasuk membangun masjid.
6. Kesimpulan:
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, kami
menyimpulkan bahwa boleh menggunakan zakat untuk membangun masjid dan
kegiatan serupa. Jika muzaki (orang yang wajib zakat) menggunakan zakat
wajibnya untuk membangun masjid, maka kewajibannya gugur dan dia akan
mendapatkan pahala atas perbuatannya.
سئل ( رحمه الله تعالى ) هل تخرج شيء من زكاة المال أي النقد في المشاريع الخيرية كبناء مساجد أو عمارتها أو بناء مدارس أو الانفاق عليها ، أو أي شيء من المرافق العامة والنافعة للمسلمين، هل يجوز إخراج شيء لهذه الغايات ، وما هو مقدار الذي يصرف من الزكاة لهذه الغايات، كما بلغنا أن علماء الأزهر أو غيرهم أفتوا بالجواز فما هو الحجة والدليل، وهل يجوز نقل زكاة المال من بلد الى آخر، والمستحقين للزكاة في البلد الذي فيها المال الموجودين ....... الخ ؟ أفتونا مأجورين .( فأجاب بقوله) الحمد لله و صلى الله على سيدنا محمد و على آله و صحبه ، الجواب لا يجوز صرف الزكاة في شيء مما ذكره السائل من بناء المساجد و عمارتها ، أو بناء المدارس أو الانفاق عليها أو غير ذلك من المشاريع الخيرية وذلك لأن الله سبحانه و تعالى بنفسه في محكم كتابه تولى قسم الصدقات و لم يكل قسمتها إلى أحد غيره فجزأها لهؤلاء المذكورين بقوله { إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم (60) } التوبة .
وإنما للحصر والإثبات تثبت المذكور وتنفي ما عداه ، لأنها مركبة من حرفي نفي و إثبات –الى أن قال- فلا يجوز صرفها الى غير من ذكر الله تعالى في كتابه مما ذكر -الى أن قال- قال : في الشرح الكبير على متن المقنع من كتب الحنابلة ، ولا نعلم خلافا بين أهل العلم في أنه لا يجوز دفع هذه الزكاة الى غير هذه الأصناف الا ما روي عن أنس والحسن انهما قالا ما أعطيت في الجسور و الطرقات فهي صدقة ماضيه، قال والصحيح الأول ، لأن الله تعالى قال { إنما الصدقات .... الخ } ومثله في المغني لابن قدامة من كتبهم، وقد فسر الأئمة الأربعة الأصناف المذكورة في كتاب الله تعالى بتفاسير معروفة ، ومع اختلاف في بعضها ليس فيها ما يفيد شمول أحدها للمصالح العامة مما ذكره السائل ، نعم رأيت بأسفل مغني ابن قدامة الحنبلي المطبوع بأسفله الشرح الكبير على متن المقنع الذي اشرف على تصحيح طبعه السيد محمد رشيد رضا ، صاحب مجلة المنار على قول المقفع و شرحه السابع (في سبيل الله) وهم الغزاة الذين لا ديوان لهم هذا الصنف السابع من أصناف الزكاة و لا خلاف في استحقاقهم و بقاء حكمهم -الى أن قال- رأيت عن السيد محمد رشيد رضا على قول الشرح المذكور لأن سبيل الله عند الإطلاق هو الغزو ، ما لفظه هذا غير صحيح بل سبيل الله هو الطريق الموصل الى مرضاته و جنته و هو الإسلام في جملته ، وآيات الإنفاق في سبيل الله تشمل جميع أنواع النفقة المشروعة –الى أن قال- فلعل من قال بجواز دفع الزكاة الى من ذكر السائل من علماء الأزهر و غيرهم أخذ بقول السيد رشيد رضا هذا ، و لكن هذا مخالف لما قاله أهل المذاهب المعمول بها كما رأيته فيما نقلناه عن الشرح المذكور.
Bolehkah Zakat Digunakan untuk Proyek Amal?
Pertanyaan tentang bolehkah zakat digunakan untuk proyek
amal seperti membangun masjid, sekolah, atau fasilitas umum lainnya telah
diajukan. Jawabannya adalah tidak boleh menurut pendapat mayoritas
ulama.
Alasan:
- Allah
SWT telah menentukan secara jelas dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 60
tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat.
- Kata
"innama" dalam ayat tersebut menunjukkan makna penegasan dan
pembatasan, sehingga zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan
yang disebutkan.
- Para
ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada selain delapan
golongan tersebut.
Pendapat yang Berbeda:
- Ada
dua riwayat dari Anas dan Hasan yang mengatakan bahwa zakat boleh
diberikan untuk pembangunan jembatan dan jalan.
- Sayyid
Muhammad Rasyid Rida dalam kitab Asy-Syarh al-Kabir 'ala Matn al-Muqni'
menjelaskan bahwa "fi sabilillah" secara umum berarti jalan yang
mengantarkan kepada ridha dan surga Allah SWT, yaitu Islam secara
keseluruhan. Ayat-ayat tentang infak di jalan Allah SWT meliputi semua
jenis infak yang diperbolehkan.
Kesimpulan:
- Mayoritas
ulama melarang penggunaan zakat untuk proyek amal seperti membangun
masjid, sekolah, atau fasilitas umum lainnya.
- Ada
beberapa ulama yang membolehkannya dengan berpegang pada pendapat Sayyid
Muhammad Rasyid Rida.
- Perlu
diingat bahwa zakat adalah hak bagi delapan golongan yang disebutkan dalam
Al-Qur'an.
مواهب الفضل من فتاوى با فضل - (ص 38-41)
في الزكاة ما قولكم ، رضي الله عنكم ، في إخراج الزكاة لنحو بناء مسجد و مدرسة و معهد ، و لنحو فرش المسجد ، و غيرها ، من المصالح العامة ، بدعوى أنها داخلة في سبيل الله ؟ و يقال إن القفال من الشافعية نقل عن بعض الفقهاء ، أنهم أجازوا صرف الزكاة إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى و بناء الحصون و عمارة المساجد ، لأن ذلك كله في سبيل الله ...... ؟ انتهى ما قيل عن القفال ، أفتونا أثابكم بما قاله العلماء في الموضوع على اختلاف المذاهب و الأقوال ، فإن المسألة واقعة حال والناس ما عندهم ورع و لا تورع ، و أحضرت الأنفس الشح ، و كلما عرض عليهم مشروع خيري أعطوه و حسبوه من الزكاة ، والله أعلم ! الحمد لله الجواب والله الهادي للصواب : لا يجوز إخراج الزكاة إلى ما ذكره السائل في السؤال من نحو بناء مسجد و غيره من المصالح العامة كما في الأنوار و المغني لابن قدامة الحنبلي لتعين صرفها إلى مستحقيها و لاتفاق الأئمة الأربعة رحمهم الله تعالى على عدم جواز إخراجها لذلك . قالوا : و المراد بقوله تعالى ( و في سبيل الله ) الغزاة ، إلا الإمام أحمد في أظهر روايتيه فإنه جعل من الحج كما نص عليه الإمام الشعراني في الميزان و الشيخ محمد بن عبد الرحمن الدمشقي العثماني الشافعي في كتابه كتاب الرحمة و الإمام النواوي رضي الله عنهم.
لكن قال الشيخ ابن حجر رحمه الله في التحفة : إن الحديث الذي استدل الإمام أحمد مخالف لما عليه أكثر العلماء ، و أجابوا عنه بعد تسليم صحته التي زعمها الحاكم ، و إلا فقد طعن فيه غير واحد ، بأن في مسنده مجهولا و عنعنة مدلس و بأن فيه اضطرابا بأنا لا نمنع أنه يسمى بذلك . و إنما النزاع في سبيل الله في الأية، و قوله ( لا تحل الصدقة إلا لخمسة ) و ذكر منها الغازي في سبيل الله صريح في أن المراد بهم فيها من ذكرناه إلى آخر ما أطال به في ذلك. و ما يقال عن القفال عن بعض الفقهاء مما ذكره السائل لم نره عنه فيما بأيدينا من المصادر . نعم، رأيت ذلك في تفسير الخازن عن بعض الفقهاء و قال بعده والقول الأول هو الصحيح لإجماع الجمهور عليه.
Bolehkah Zakat Digunakan untuk Bangunan dan Fasilitas
Umum?
Pertanyaan ini menanyakan tentang boleh tidaknya menggunakan
zakat untuk membangun masjid, sekolah, institut, perabotan masjid, dan
kepentingan umum lainnya. Alasan yang dikemukakan adalah karena hal tersebut
termasuk dalam kategori "fi sabilillah".
Pendapat Mayoritas Ulama:
Menurut mayoritas ulama, zakat tidak boleh digunakan
untuk hal-hal yang disebutkan di atas. Hal ini ditegaskan dalam kitab
"Anwar" dan "Mughni" karya Ibnu Qudamah al-Hanbali.
Alasan:
- Allah
SWT telah menentukan secara jelas delapan golongan yang berhak menerima
zakat dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 60.
- Para
imam dari empat mazhab sepakat bahwa zakat harus diberikan kepada
orang-orang yang berhak menerimanya, bukan untuk kepentingan umum.
Makna "Fi Sabilillah":
- Dalam
ayat tentang zakat, kata "fi sabilillah" umumnya diartikan
sebagai para mujahidin yang berjuang di jalan Allah.
- Beberapa
ulama, seperti Imam Ahmad, berpendapat bahwa "fi sabilillah"
juga mencakup kegiatan haji. Namun, pendapat ini tidak disepakati oleh
mayoritas ulama.
ولا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة كما نص عليه ابن الصلاح و نقل الإجماع عليه أي حتى في العمل لنفسه لعدم الثقة بنسبتها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف و التبديل ، وعليه فمن قلد غير الأئمة الأربعة في إخراج الزكاة و صرفها إلى غير مستحقيها من نحو بناء مسجد أو غيره من المصالح العامة مثلا لا تبرأ ذمته منها و يأثم إثما عظيما لأن صرفها لغير مستحقيها مما ذكره السائل كمنعها لأنه خالف الكتاب و السنة و إجماع العلماء في قولهم إن المراد بقوله تعالى : ( و في سبيل الله ) هم الغزاة و إليك الأدلة من كلامهم. قال في الأنوار : و لا يجوز الصرف في كفن الميت و دفنه و في بناء المسجد .... ( اهـ ).
Keharusan Mengikuti Empat Mazhab dalam Berzakat
Para ulama, seperti Ibnu ash-Salah, telah menegaskan bahwa
umat Islam tidak boleh mengikuti mazhab lain selain empat mazhab utama dalam
masalah zakat. Hal ini juga ditegaskan oleh ijma' ulama, yaitu konsensus para
ulama.
Keharusan mengikuti empat mazhab ini berlaku bahkan untuk
diri sendiri. Alasannya, tidak ada jaminan bahwa pendapat di luar empat mazhab
tersebut berasal dari para imam dengan sanad yang terhindar dari perubahan dan
manipulasi.
Oleh karena itu, orang yang mengikuti pendapat di luar empat
mazhab dalam mengeluarkan zakat dan memberikannya kepada selain orang yang
berhak menerimanya, seperti membangun masjid atau kepentingan umum lainnya,
tidak terbebas dari kewajibannya dan berdosa besar.
Hal ini dikarenakan mengeluarkan zakat untuk selain orang
yang berhak menerimanya sama dengan menahannya, karena bertentangan dengan
Al-Quran, Sunnah, dan ijma' ulama.
Sebagai contoh, Anwar, salah satu ulama, menyatakan bahwa
zakat tidak boleh digunakan untuk mengkafani orang mati, menguburnya, dan
membangun masjid.
Berikut beberapa dalil yang mendukung pernyataan di atas:
- Al-Quran: "Sesungguhnya
zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, ..."(QS.
At-Taubah: 60)
- Sunnah: Dari
Ibnu Abbas ra., ia berkata, "Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat
pada delapan asnaf." (HR. Bukhari dan Muslim)
- Ijma'
ulama: Para ulama telah sepakat bahwa zakat hanya boleh diberikan
kepada delapan asnaf yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah.
Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengikuti
empat mazhab dalam mengeluarkan zakat agar terhindar dari dosa dan memastikan
zakatnya diterima oleh Allah SWT.
قال الكمثيري في حاشيته عليه لتعين صرفها إلى مستحقيها . و قال الشيخ ابن قدامة الحنبلي في مغنيه ما لفظه : ولا يجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر الله تعالى ، من بناء المساجد و القناطر و السقايات و إصلاح الطرقات و سد البثوق و تكفين الموتى و التوسعة على الأضياف و أشباه ذلك من القرب التي لم يذكرها الله تعالى ... اهـ. ثم استدل لذلك بقوله تعالى : ( إنما الصدقات للفقراء و المساكين ...) ، قال و إنما للحصر و الإثبات تثبت المذكور و تنفي ما عداه اهـ . و قال الإمام الشعراني في الميزان : اتفق الأئمة الأربعة على أنه لا يجوز إخراج الزكاة لبناء مسجد أو تكفين . ثم قال : و من ذلك قول الأئمة الثلاثة، إن المراد بقوله تعالى ( و في سبيل الله ) الغزاة مع قول أحمد في أظهر روايتيه أن منه الحج اهــ .
و قال الشيخ محمد الدمشقي في كتابه ( كتاب الرحمة ) بهامش الميزان : واتفقوا على أنه لا يجوز دفعها إلى عبده ثم قال : و اتفقوا على منع الإخراج لبناء مسجد أو تكفين ميت اهــ . و المراد بهم في قوله " واتفقوا " الأئمة الأربعة . و قال أيضا في كتاب الرحمة بعد عد بعض الأصناف ( و في سبيل الله ) الغزاة . و قال أحمد في أظهر الروايتين : الحج من سبيل الله اهـ . و قال الإمام النواوي في المجموع : و مذهبنا أن سهم سبيل الله المذكور في الآية الكريمة يصرف إلى الغزاة الذين لا حق لهم في الديوان ، بل يغزون متطوعين . و به قال أبو حنيفة و مالك رحمهما الله تعالى . و قال أحمد رحمه الله تعالى في أصح الروايتين عنه : يجوز صرفه إلى مريد الحج . و روي مثله عن ابن عمر رضي الله عنهما اهـ
Zakat harus diberikan kepada mustahik (penerima yang berhak)
sesuai dengan ketentuan Al-Quran dan hadits.
Argumen:
- Al-Kamitsiri menekankan
bahwa zakat harus disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya.
- Ibnu
Qudamah al-Hanbali menjelaskan bahwa zakat tidak boleh digunakan
untuk hal-hal di luar delapan golongan yang disebutkan dalam Al-Quran,
seperti pembangunan masjid, jembatan, dan lain-lain.
- Beliau
menggunakan ayat yang menyebutkan "hanya untuk orang-orang fakir,
miskin..." sebagai landasan. Kata "hanya" menunjukkan
batasan dan penegasan.
- Imam
Syarani menyampaikan kesepakatan para Imam mazhab (Hanafi,
Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) bahwa zakat tidak boleh digunakan untuk
membangun masjid atau mengkafani jenazah.
- Alasan
lainnya terkait dengan definisi "fi sabilillah" dalam Al-Quran.
- Muhammad
ad-Dimasyqi menegaskan kesepakatan para Imam mazhab tentang
larangan penggunaan zakat untuk budak, pembangunan masjid, dan mengkafani
jenazah.
- Imam
Nawawi menjelaskan bahwa "fi sabilillah" merujuk pada
para mujahidin yang berjihad secara sukarela, bukan yang sudah mendapat
gaji dari Baitul Maal.
- Pendapat
ini senada dengan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.
- Imam
Ahmad berpendapat bahwa zakat bisa diberikan kepada orang yang
ingin berhaji, dan pendapat ini diriwayatkan juga dari Ibnu Umar.
Mengapa Sebaiknya Mengikuti Empat Mazhab yang Terkemuka
Syekh Abdul Rahman al-Masyhur dalam kitab Bughiyat
al-Mustarsyidin menyoroti pentingnya mengikuti salah satu dari empat mazhab
(Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) dalam memahami ajaran Islam.
Alasan utama yang dikemukakan adalah kurangnya
jaminan kesahihan dan kelestarian (sanad) ajaran di luar mazhab tersebut.
Dengan kata lain, sulit dipastikan apakah pendapat yang dianut berasal langsung
dari para imam atau sudah mengalami perubahan dan penafsiran yang tidak akurat.
Contoh yang diberikan adalah mazhab Zaidiyah.
Meskipun didirikan oleh Imam Zaid yang dihormati, para pengikutnya tidak secara
detail menjaga dan meneliti metodologi mazhab tersebut. Hal ini berakibat pada
munculnya pemahaman yang longgar dalam berbagai hal yang mungkin menyimpang
dari maksud awal Imam Zaid.
Sebaliknya, para imam dari empat mazhab yang mapan
dikenal dengan ketelitian mereka dalam meneliti, menjelaskan, dan menjaga
kemurnian ajaran yang mereka sampaikan. Mereka membedakan pendapat yang
diyakini berasal langsung dari perkataan dan bukti yang ada, dengan pendapat
yang kemungkinan belum tentu berasal dari mereka.
Kesimpulannya, mengikuti salah satu dari empat mazhab
yang diakui menjamin kejelasan dan keamanan dalam menjalankan ajaran Islam. Hal
ini disebabkan oleh metodologi yang terpelihara dan upaya para imam dalam
menyampaikan pengetahuan agama secara akurat.
بغية الطالب للشيخ عبد الله الهرري - (ص 386-387) دار المشاريع
فدلنا حديث النبي وهو المبين لما أنزل الله في كتابه أن المراد بقول الله تعالى ( و في سبيل الله ) في آية الصدقات بعض أعمال البر لا كلها وهو الجهاد. و يدخل في سبيل الله عند الإمام أحمد من يريد الحج وهو فقير. و لم يقل إن كلمة ( و في سبيل الله ) تعم كل مشروع خيري أحد من الأئمة المجتهدين إنما ذلك ذكره بعض الحنفية من المتأخرين ليس من أصحاب أبي حنيفة الذين هم مجتهدون فحرام أن يؤخذ بقول هذا العالم . فليحذر من هؤلاء الذين يلمون أموال الزكوات باسم المستشفى أو بناء جامع أو بناء مدرسة هؤلاء حرام عليهم و حرام على الذين يعطونهم لأنه لو كان كل عمل خيري يدخل في قوله تعالى ( و في سبيل الله 60 ) سورة التوبة، ما قال الرسول (( ليس فيها حق لغني و لا لقوي مكتسب )) . و هؤلاء خالفوا الإجماع و قد نقل ابن حزم الإجماع على أنه لا يجوز دفع الزكاة لبناء المساجد، و الإجماع هو إجماع المجتهدين و لا يعتد في الإجماع بقول العلماء الذين لم يصلوا إلى مرتبة الإجتهاد كصاحب البدائع الكاساني الحنفي فإنه فسر في سبيل الله بجميع أعمال الخير، وصاحب البدائع هذا هو مقلد في المذهب الحنفي ابتدع ما ليس من المذهب وهو بعيد من مرتبة الاجتهاد فلا يعتبر قوله حجة في دين الله و تبعه بعض أهل العصر الذين لا يعتد بهم فهؤلاء لا يكونون حجة عند الله يوم القيامة . ولو كان يجوز دفع الزكاة لكل عمل خيري ما قال رسول الله في حديثه الصحيح المشهور (( تؤخذ من أغنيائهم و ترد إلى فقرائهم )) أما مطلق الأعمال الخيرية فتجوز في الغنى و الفقير وإن كانت التصدق على الفقير أفضل .
Hadits Nabi, yang menjelaskan apa yang diturunkan Allah
dalam Kitab-Nya, menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan "fi
sabilillah" dalam ayat tentang zakat adalah beberapa amal kebaikan, bukan
semuanya, yaitu jihad.
Tidak ada satupun imam mujtahid yang mengatakan bahwa kata
"fi sabilillah" mencakup semua proyek amal. Hal ini hanya disebutkan
oleh beberapa Hanafiyah dari kalangan mutaakhirin (ulama-ulama akhir), bukan
dari kalangan sahabat Abu Hanifah yang merupakan mujtahid.
Hendaklah berhati-hati terhadap orang-orang yang
mengumpulkan zakat atas nama rumah sakit, pembangunan masjid, atau pembangunan
sekolah. Haram bagi mereka dan haram bagi orang-orang yang memberikan zakat
kepada mereka.
Beberapa orang di zaman ini mengikutinya, tetapi mereka
tidak dipedulikan. Orang-orang ini tidak akan menjadi hujjah di hadapan Allah
pada hari kiamat.
WALLOHU A'LAM
Komentar
Posting Komentar