Langsung ke konten utama

Hukum pemberian zakat fitrah kepada guru ngaji

 Assalamu alaikum, +62 819-1410-5095

Deskripsi Masalah:

Sebagai Muslim yang sehat lahir batin, diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Di penghujung Ramadhan, umat Islam diwajibkan pula untuk membayar zakat fitrah. Di suatu daerah, ada seorang Muslim yang memberikan zakat fitrah kepada guru ngajinya yang serba berkecukupan.

Pertanyaan:

Apakah ada dalil yang memperbolehkan pemberian zakat fitrah kepada guru ngaji seperti dalam deskripsi?

Jawaban:

Tidak ada dalil yang secara eksplisit memperbolehkan pemberian zakat fitrah kepada guru ngaji.

Namun, ulama Syafi'iyah memasukkan guru ngaji, kyai, dan santri dalam konsep fuqoro' masakin (orang-orang fakir dan miskin). Oleh karena itu, mereka boleh menerima zakat maal/fitrah jika memenuhi kriteria fuqoro' masakin.

Keterangan penting:

  • Pendapat sebagian ulama yang dikutip oleh Imam Qoffal belum diketahui secara pasti siapa yang dimaksud. Ada kemungkinan besar mengarah pada Imam Hasan dan Imam Anas bin Malik.
  • Pendapat tersebut menurut Jumhur ulama (mayoritas ulama) tidak mu'tabar (tidak dianggap). Pendapat ini didukung oleh mufti Hadramaut, karena pendapat tersebut di luar lingkup madzhab empat.
  • Namun, ada juga yang sependapat dengan pendapat kutipan Imam Qoffal, seperti Syeikh Hasanain Makhluf dan ulama mu'ashirin Mesir yang memfatwakan dan memilih pendapat tersebut.
  • Pendapat sebagian ulama yang dinukil oleh Imam Qoffal dan ditanggapi oleh para ulama itu dalam konteks zakat maal. Sedangkan zakat fitrah belum ada penjelasan lebih lanjut.
  • Perumus dan para musyawirin Bahtsul Masail PWNU Jatim tidak berani memasukkan dalam khilaf ini. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan perbedaan pendapat, seperti dalam madzhab Maliki yang menyatakan bahwa zakat fitrah hanya boleh disalurkan kepada fuqoro' masakin.
  • Mashrof zakat fitrah terbatas pada fuqoro' masakin, sedangkan mashrof zakat maal, seperti fisabilillah yang termasuk di dalamnya para ustadz, mu'adzin dll, tidak menjadi mashrof dalam zakat fitrah.
  • Demi menjaga kehati-hatian, maka untuk zakat fitrah hanya boleh disalurkan kepada fuqoro' masakin. Sedangkan ustadz & kyai yang aghniya' (kaya), tidak boleh menerima zakat fitrah.

 Referensi kitab:

روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 2 / ص 309)

(فرع) 

المعتبر في عجزه عن الكسب عجزه عن كسب يقع موقعا من عن أصل الكسب والمعتبر كسب يليق بحاله ومروءته ولو قدر على الكسب إلا أنه مشتغل ببعض العلوم الشرعية ولو أقبل على الكسب لانقطع عن التحصيل حلت له الزكاة أما المعطل المعتكف في المدرسة ومن لا يتأتى منه التحصيل فلا تحل لهما الزكاة مع القدرة على الكسب.

(Cabang)

Yang dimaksud dengan "tidak mampu berusaha" adalah tidak mampu dalam usaha yang setara dengan usaha orang-orang yang mampu. Yang dimaksud dengan usaha adalah usaha yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya.

Sekalipun dia mampu berusaha, tetapi dia sibuk dengan beberapa ilmu syar'i, dan jika dia fokus pada usaha, dia akan terhenti dari menuntut ilmu, maka zakat halal baginya.

Adapun orang yang bermalas-malasan, berdiam diri di sekolah, dan orang yang tidak mampu menuntut ilmu, maka zakat tidak halal bagi mereka meskipun mereka mampu berusaha.

Penjelasan:

Seseorang dianggap tidak mampu bekerja dan berhak menerima zakat jika:

  • Tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini dipertimbangkan dengan kemampuan, kondisi fisik, dan status sosialnya.
  • Tidak mampu melakukan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya karena faktor-faktor tertentu.

Contoh:

  • Seorang sarjana yang tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya karena keterbatasan lapangan kerja.
  • Seorang pekerja yang mengalami kecelakaan dan tidak dapat bekerja lagi karena cacat fisik.
  • Seorang lansia yang tidak mampu bekerja karena faktor usia dan kesehatan.

Seseorang yang mampu bekerja, tetapi:

  • Memilih untuk fokus mempelajari ilmu agama dengan tekun, dan
  • Tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber lain, maka berhak menerima zakat.

Contoh:

  • Seorang santri yang mondok di pesantren dan fokus mempelajari ilmu agama.
  • Seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan agama dan tidak memiliki penghasilan lain.

Seseorang yang tidak bekerja, tetapi:

  • Mampu bekerja dan tidak memiliki alasan yang sah untuk tidak bekerja, maka tidak berhak menerima zakat.

Contoh:

  • Orang yang malas bekerja dan memilih hidup dari bantuan orang lain.
  • Orang yang memiliki kemampuan bekerja tetapi memilih untuk tidak bekerja.

Kesimpulan:

Ketidakmampuan bekerja dalam konteks penerimaan zakat diartikan sebagai ketidakmampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, dengan mempertimbangkan keahlian, kondisi fisik, status sosial, dan pilihan hidup seseorang.

 المجموع شرح المهذب - (ج 6 / ص 172)

(وأما)

 ما لا يليق به فهو كالمعدوم قالوا ولو قدر علي كسب يليق بحاله الا أنه مشتغل بتحصيل بعض العلوم الشرعية بحيث لو اقبل على الكسب لانقطع عن التحصيل حلت له الزكاة لان تحصيل العلم فرض كفاية (وأما) من لا يتأنى منه التحصيل فلا تحل له الزكاة إذا قدر على الكسب وان كان مقيما بالمدرسة هذا الذى ذكرناه هو الصحيح المشهور وذكر الدارمي في المشتغل بتحصيل العلم ثلاثة أوجه: (أحدها) يستحق وان قدر علي الكسب، (والثاني) لا، (والثالث) ان كان نجيبا يرجى تفقهه ونفع المسلمين به استحق والا فلا، ذكرها الدارمي في باب صدقة التطوع وأما من أقبل علي نوافل العبادات والكسب يمنعه منها أو من استغراق الوقت بها فلا تحل له الزكاة بالاتفاق لان مصلحة عبادته قاصرة عليه بخلاف المشتغل بالعلم قال اصحابنا وإذا لم يجد الكسوب من يستعمله حلت له الزكاة لانه عاجز.

المجموع شرح المهذب - (Jilid 6 / Halaman 172)

(Adapun) pekerjaan yang tidak pantas baginya, maka hukumnya sama dengan tidak memiliki pekerjaan. Para ulama berkata, "Sekalipun dia mampu bekerja yang pantas baginya, tetapi dia sibuk menuntut ilmu syar'i, sehingga jika dia fokus pada pekerjaan, dia akan terhenti dari menuntut ilmu, maka zakat halal baginya. Karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah."

(Adapun) orang yang tidak mampu menuntut ilmu, maka zakat tidak halal baginya jika dia mampu bekerja, meskipun dia tinggal di sekolah.

Pendapat yang kami sebutkan ini adalah pendapat yang sahih dan terkenal. Ad-Darimi menyebutkan tiga pendapat tentang orang yang sibuk menuntut ilmu:

(Pertama) dia berhak menerima zakat meskipun dia mampu bekerja.

(Kedua) dia tidak berhak menerima zakat.

(Ketiga) jika dia cerdas dan diharapkan dapat memahami ilmu dan bermanfaat bagi umat Islam, maka dia berhak menerima zakat.

Ad-Darimi menyebutkan pendapat ini dalam bab sedekah sunnah.

(Adapun) orang yang sibuk dengan ibadah sunnah dan pekerjaan yang menghalanginya dari ibadah sunnah atau menghabiskan waktunya dengan ibadah sunnah, maka zakat tidak halal baginya menurut kesepakatan para ulama. Karena manfaat ibadahnya hanya untuk dirinya sendiri, berbeda dengan orang yang sibuk menuntut ilmu.

Sahabat-sahabat kami berkata, "Jika orang yang mampu bekerja tidak menemukan orang yang mempekerjakannya, maka zakat halal baginya karena dia tidak mampu."

 

PENJELASAN

Seseorang yang menuntut ilmu agama dan tidak memiliki sumber penghasilan lain berhak menerima zakat. Hal ini karena menuntut ilmu agama merupakan kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang bermanfaat bagi seluruh umat Islam.

Syarat-syarat untuk menerima zakat sebagai penuntut ilmu agama:

  • Tidak memiliki sumber penghasilan lain.
  • Mampu dan berpotensi untuk menjadi ahli agama yang bermanfaat bagi umat.
  • Sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama.

Orang-orang yang tidak berhak menerima zakat:

  • Orang yang mampu bekerja dan mendapatkan penghasilan, tetapi memilih untuk fokus pada ibadah sunnah.
  • Orang yang tidak mampu belajar dan tidak memiliki potensi untuk menjadi ahli agama.

Kesimpulan:

Seseorang yang menuntut ilmu agama berhak menerima zakat jika memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.

 

 بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع في الفقه الحنفي - (ج 4 / ص 26)

وَأَمَّا قَوْله تَعَالَى :

 { وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ } عِبَارَةً عَنْ جَمِيعِ الْقُرَبِ فَيَدْخُلُ فِيهِ كُلُّ مَنْ سَعَى فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَسَبِيلِ الْخَيْرَاتِ إذَا كَانَ مُحْتَاجًا.

Makna "Fi Sabilillah" dalam Ayat Zakat

Fi sabilillah dalam ayat zakat memiliki makna yang luas, yaitu mencakup semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan jalan kebaikan.

Oleh karena itu, semua orang yang berjuang di jalan Allah SWT dan membutuhkan bantuan berhak menerima zakat.


درر الحكام شرح غرر الأحكام في الفقه الحنفي - (ج 2 / ص 397)

( قَوْلُهُ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ )

 أَقُولُ كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَعْدِلَ عَنْ اللَّامِ إلَى فِي كَمَا وَرَدَ بِهِ النَّصُّ كَذَلِكَ فِي بَاقِي الْأَرْبَعَةِ الْأَخِيرَةِ وَهُوَ الْمُكَاتَبُ وَالْغَارِمُ وَابْنُ السَّبِيلِ لَمَّا قَالَ فِي الْكَافِي وَغَيْرِهِ إنَّمَا عَدَلَ عَنْ اللَّامِ إلَى فِي فِي الْأَرْبَعَةِ الْأَخِيرَةِ لِلْإِيذَانِ بِأَنَّهُمْ أَرْسَخُ فِي اسْتِحْقَاقِ التَّصَدُّقِ عَلَيْهِمْ مِمَّنْ سَبَقَ ذِكْرُهُ ؛ لِأَنَّ فِي لِلْوِعَاءِ فَنَبَّهَ عَلَى أَنَّهُمْ أَحِقَّاءٌ بِأَنْ تُوضَعَ فِيهِمْ الصَّدَقَاتُ ( قَوْلُهُ : هُوَ مُنْقَطِعُ الْغُزَاةِ إلَخْ ) قَالَ فِي الظَّهِيرِيَّةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ طَلَبَةُ الْعِلْمِ وَكَذَا فِي الْمَرْغِينَانِيِّ وَقَالَ السُّرُوجِيُّ قُلْتُ بَعِيدٌ ، فَإِنَّ الْآيَةَ نَزَلَتْ وَلَيْسَ هُنَاكَ قَوْمٌ يُقَالُ لَهُمْ طَلَبَةُ عِلْمٍ اهـ قُلْتُ وَاسْتِبْعَادُهُ بَعِيدٌ ؛ لِأَنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ لَيْسَ إلَّا اسْتِفَادَةَ الْأَحْكَامِ وَهَلْ يَبْلُغُ طَالِبُ عِلْمٍ رُتْبَةَ مَنْ لَازَمَ صُحْبَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِتَلَقِّي الْأَحْكَامِ عَنْهُ كَأَصْحَابِ الصُّفَّةِ فَالتَّفْسِيرُ بِطَالِبِ الْعِلْمِ وَجِيهٌ خُصُوصًا قَدْ قَالَ فِي الْبَدَائِعِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ جَمِيعُ الْقُرَبِ فَيَدْخُلُ فِيهِ كُلُّ مَنْ سَعَى فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَسَبِيلِ الْخَيْرَاتِ إذَا كَانَ مُحْتَاجًا اهـ ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ الْخِلَافَ بَيْنَ الصَّاحِبَيْنِ إنَّمَا هُوَ فِي التَّفْسِيرِ وَلَا خِلَافَ فِي الْحُكْمِ لِلِاتِّفَاقِ عَلَى أَنَّهُ إنَّمَا تُعْطَى الْأَصْنَافُ كُلُّهُمْ بِشَرْطِ الْفَقْرِ إلَّا فِي الْعَامِلِ فَمُنْقَطِعُ الْحَاجِّ الْفَقِيرِ يُعْطَى بِالِاتِّفَاقِ كَمَا فِي الْفَتْحِ.

1. Penggunaan Huruf Lam dan Fi:

  • Pada frasa "fi sabilillah" untuk empat kategori terakhir (mukatab, gharim, ibn sabil, dan fi sabilillah), terdapat perbedaan makna dalam penggunaan huruf lam dan fi.
  • Huruf lam menunjukkan bahwa zakat diberikan kepada orang yang sudah berada di jalan Allah (seperti mukatab yang ingin memerdekakan diri).
  • Huruf fi menunjukkan bahwa zakat diberikan untuk membantu mereka agar dapat memasuki jalan Allah (seperti gharim yang terlilit hutang karena alasan syar'i).

2. Makna "Fi Sabilillah":

  • Para ulama berbeda pendapat tentang makna "fi sabilillah" dalam ayat zakat:
    • Pendapat Pertama: "Fi sabilillah" diartikan sebagai mujahidin yang berjuang di jalan Allah dengan jihad fisik.
    • Pendapat Kedua: "Fi sabilillah" diartikan sebagai semua orang yang berjuang di jalan kebaikan, termasuk mujahidin, penuntut ilmu agama, penyebar dakwah, dan lain sebagainya.

3. "Fi Sabilillah" dan Penuntut Ilmu:

  • Imam ash-Shafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa penuntut ilmu termasuk dalam kategori "fi sabilillah".
  • Alasannya:
    • Menuntut ilmu adalah fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif bagi umat Islam.
    • Penuntut ilmu berjuang untuk mempertahankan dan menyebarkan agama Islam.
    • Penuntut ilmu membutuhkan bantuan untuk memfokuskan diri pada studinya.

4. Kesimpulan:

  • Penggunaan huruf lam dan fi dalam "fi sabilillah" memiliki makna yang berbeda.
  • "Fi sabilillah" memiliki makna yang luas, yaitu semua orang yang berjuang di jalan kebaikan.
  • Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah penuntut ilmu termasuk dalam kategori "fi sabilillah".

 

تفسير المنير - (ج 1 / ص 244)

(فى سبيل الله)

 ويجوز للغازى ان يأخذ من مال الزكاة وإن كان غنيا كما هو مذهب الشافعية ومالك واسحق وقال أبو حنيفة وصاحباه لا يعطى إلا إذا كان محتاجا ونقل القفال عن بعض الفقهاء أنهم أجازوا صرف الصدقات إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المسجد لان قوله تعالى فى سبيل الله عام فى الكل.

(Di Jalan Allah)

Mujahid dan Zakat:

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang bolehkah mujahid yang kaya menerima zakat:

  • Pendapat Pertama: Mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ishaq, berpendapat bahwa mujahid boleh menerima zakat meskipun dia kaya. Alasannya adalah karena jihad merupakan suatu perjuangan yang membutuhkan banyak biaya, dan mujahid berhak mendapatkan bantuan untuk menunaikan kewajibannya tersebut.
  • Pendapat Kedua: Imam Abu Hanifah dan kedua muridnya berpendapat bahwa mujahid tidak boleh menerima zakat kecuali jika dia fakir (miskin). Alasannya adalah karena zakat diutamakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.

Penggunaan Zakat untuk Kebaikan:

Imam Qaffal meriwayatkan dari beberapa ulama bahwa mereka membolehkan penggunaan zakat untuk semua tujuan kebaikan, seperti:

  • Mengkafani orang mati
  • Membangun benteng
  • Membangun masjid

Pendapat ini didasarkan pada ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa zakat boleh digunakan "fi sabilillah", yang diartikan sebagai semua tujuan kebaikan.

 ﺟﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺑﺸﺮﺡ ﺍﻟﻘﺴﻄﻼﻧﻲ - (ﺹ 192)

أﻫﻞ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ أﻯ ﺍﻟﻐﺰﺍﺓ ﺍﻟﻤﺘﻄوّعوﻥ ﺑﺎﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭإﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ أﻏﻨﻴﺎﺀ إﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻃﻠﺒﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻭﺭﻭّّﺍﺩ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﻃﻼّﺏ ﺍﻟﻌﺪﻝ ﻭﻣﻘﻴمو ﺍلإﻧﺼﺎﻑ ﻭﺍﻟﻮﻋﻆ ﻭﺍلإﺭﺷﺎﺩ ﻭﻧﺎﺻﺮو ﺍﻟﺪﻳﻦ الحنيف ﺍهـ 


"Ahlus Sabilillah adalah para mujahidin yang berjihad secara sukarela, termasuk:

Para pejuang yang bertempur di jalan Allah, meskipun mereka kaya.

Para penuntut ilmu agama.

Penyebar dakwah Islam.

Pencari keadilan.

Penegak hukum dan keadilan.

Penyuluh dan pembimbing.

Pembela agama Islam.


تحفة الرحبة - (ج٢ / ص 33)
أَهْلُ سَبِيْلِ اللهِ الْغُزَاةُ الْمُتَطَوِّعُوْنَ بِالْجِهَادِ وَإِنْ كَانُوْا أَغْنِيَاءَ، إِعَانَةً عَلَى الْجِهَادِ. وَيَدْخُلُ فِيْ ذَلِكَ طَلَبَةُ الْعِلْمِ الشَّرْعِيِّ وَرُوَّادُ الْحَقِّ وَطُلاَّبُ الْعَدْلِ وَمُقِيْمُوا اْلإِنْصَافِ وَالْوَعْظِ وَاْلإِرْشَادِ وَنَاصِرُوا الدِّيْنِ الْحَنِيْفِ اهـ

فتاوى شرعية وبحوث إسلامية حسنين محمد مخلوف - (ص 255)
الجواب) إن من مصارف الزكاة الثمانية المذكورة فى قوله تعالى: {إنما الصدقات للفقراء} إلى آخر الآية إنفاقها {فى سبيل الله} وسبيل الله عام يشمل جميع وجوه الخير للمسلمين من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المساجد وتجهيز الغزاة فى سبيل الله، وما أشبه ذلك مما فيه مصلحة عامة للمسلمين كما درج عليه بعض الفقهاء واعتمده الإمام القفال من الشافعية ونقله عنه الرازى فى تفسيره وهو الذى نختاره للفتوى. وبناء عليه لا مانع من صرف زكاة النقدين والحبوب والماشية وكذا زكاة الفطر فى الأغراض المشار إليها فى السؤال لما فيها من المصلحة الظاهرة للمسلمين خصوصا فى هذه الديار. وأما جلود الأضاحى فلا وجه للتوقف فى صرفها فى هذه المشروعات التى تعود بالخير على المسلمين إذا تصدق بها المضحون فى ذلك، والله تعالى أعلم

Jawaban:
Salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima zakat yang disebutkan dalam firman Allah SWT: "Sesungguhnya sedekah-sedekah itu hanyalah untuk orang-orang fakir..." (QS. At-Taubah: 60) adalah "fi sabilillah". "Fi sabilillah" adalah istilah yang luas dan mencakup semua bentuk kebaikan bagi umat Islam, seperti:
Mengkafani orang mati
Membangun benteng
Membangun masjid
Membekali para mujahidin
Dan lain sebagainya yang memberikan manfaat umum bagi umat Islam
Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ulama, di antaranya Imam Qaffal dari kalangan Syafi'iyah dan Imam Razzi dalam tafsirnya. Ini adalah pendapat yang kami pilih untuk dijadikan fatwa.
Berdasarkan hal tersebut, tidak ada larangan untuk menggunakan zakat:
Uang
Hasil panen
Hewan ternak
Zakat fitrah
Untuk tujuan-tujuan yang disebutkan dalam pertanyaan, karena tujuan-tujuan tersebut jelas memberikan manfaat bagi umat Islam, khususnya di wilayah ini.
Adapun kulit hewan kurban, tidak ada keraguan untuk menggunakannya dalam proyek-proyek yang bermanfaat bagi umat Islam jika disumbangkan oleh orang yang berkurban.

فتاوى الأزهر - (ج 1 / ص 139)
جواز صرف الزكاة فى بناء المساجد اطلعنا على هذا السؤال ونفيد أنه يجوز صرف الزكاة لبناء المسجد ونحوه من وجوه البر التى ليس فيها تمليك أخذا برأى بعض فقهاء المسلمين الذى أجاز ذلك استدلالا بعموم قوله تعالى {وفى سبيل اله} من آية {إنما الصدقات للفقراء والمساكين} الآية وإن كان مذهب الأئمة الأربعة على غير ذلك وما ذكرناه مذكور فى تفسير هذه الآية للإمام فخر الدين الرازى ونص عبارته (واعلم أن ظاهر اللفظ فى قوله وفى سبيل اللّه لا يوجب القصر على كل الغزاة فلهذا المعنى نقل القفال فى تفسيره عن بعض الفقهاء أنهم أجازوا صرف الصدقات إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الحصون وعمارة المساجد لأن قوله وفى سبيل اللّه عام فى الكل) انتهت عبارة الفخر ولم يعقب رحمه اللّه على ذلك بشىء وقد جاء فى المغنى لابن قدامة بعد أن قال ولا يجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر اللّه تعالى من بناء المساجد والقناطر والجسور والطرق فهى صدقة ماضية والأول أصح لقوله سبحانه وتعالى إنما الصدقات للفقراء والمساكين
وإنما للحصر والإثبات تثبت المذكور وتنفى ما عداه انتهى وظاهر أن أنسا والحسن يجيزان صرف الزكاة فى بناء المسجد لصرفها فى عمل الطرق والجسور وما قاله ابن قدامة فى الرد عليهما غير وجيه لأن ما أعطى فى الجسور والطرق مما أثبتته الآية لعموم قوله تعالى {وفى سبيل الله} وتناوله بكل وجه من وجوه البر كبناء مسجد وعمل جسر وطريق. ولذلك ارتضاه صاحب شرح كتاب الروض النضير إذ قال. وذهب من أجاز ذلك أى دفع الزكاة فى تكفين الموتى وبناء المسجد إلى الاستدلال بدخولهما فى صنف سبيل اللّه إذ هو أى سبيل اللّه طريق الخير على العموم وإن كثر استعماله فى فرد من مدلولاته وهو الجهاد لكثرة عروضه فى أول الإسلام كما فى نظائره ولكن لا إلى حد الحقيقة العرفية فهو باق على الوضع الأول فيدخل فيه جميع أنواع القرب على ما يقتضيه النظر فى المصالح العامة والخاصة إلا ما خصه الدليل وهو ظاهر عبارة البحر فى قوله قلنا ظاهر سبيل اللّه العموم إلا ما خصه الدليل انتهت عبارة الشرح المذكور. والخلاصة أن الذى يظهر لنا هو ما ذهب إليه بعض فقهاء المسلمين من جواز صرف الزكاة فى بناء المسجد ونحوه فإذا صرف المزكى الزكاة الواجبة عليه فى بناء المسجد سقط عنه الفرض وأثيب على ذلك واللّه أعلم

Bolehkah Zakat Digunakan untuk Membangun Masjid?

Pertanyaan tentang bolehkah menggunakan zakat untuk membangun masjid dan kegiatan serupa telah kami tinjau dan kami menyimpulkan bahwa hal tersebut diperbolehkan.

Pendapat ini didasarkan pada beberapa pertimbangan:

1. Pendapat Ulama Muslim:

Beberapa ulama Muslim membolehkan penggunaan zakat untuk membangun masjid dan kegiatan serupa. Pendapat ini didasarkan pada ayat Al-Qur'an yang menyatakan "Fi Sabilillah" (di jalan Allah) dalam ayat tentang zakat (QS. At-Taubah: 60).

2. Tafsir Imam Fakhru ad-Din ar-Razi:

Imam Fakhru ad-Din ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna "Fi Sabilillah" tidak hanya terbatas pada para pejuang. Beliau mengatakan bahwa kata "Fi Sabilillah" bersifat umum dan mencakup semua bentuk kebaikan, termasuk membangun masjid.

3. Pendapat Ibnu Qudamah:

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni menyatakan bahwa membangun masjid termasuk dalam kategori "Fi Sabilillah". Beliau beralasan bahwa membangun masjid merupakan bentuk kebaikan yang bermanfaat bagi umat Islam.

4. Pendapat Ansa dan Hasan al-Bashri:

Ansa dan Hasan al-Bashri, dua ulama terkemuka, juga membolehkan penggunaan zakat untuk membangun masjid. Mereka beralasan bahwa membangun masjid sama seperti membangun jalan dan jembatan, yang termasuk dalam kategori "Fi Sabilillah".

5. Pendapat صاحب شرح كتاب الروض النضير:

Penulis شرح كتاب الروض النضير menyetujui pendapat yang membolehkan penggunaan zakat untuk membangun masjid. Beliau beralasan bahwa "Fi Sabilillah" mencakup semua jenis ketaatan kepada Allah SWT, termasuk membangun masjid.

6. Kesimpulan:

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, kami menyimpulkan bahwa boleh menggunakan zakat untuk membangun masjid dan kegiatan serupa. Jika muzaki (orang yang wajib zakat) menggunakan zakat wajibnya untuk membangun masjid, maka kewajibannya gugur dan dia akan mendapatkan pahala atas perbuatannya.

 فتح الإله المنان فتاوى أبو بكر باغيثان - (ص 76- 70)

سئل ( رحمه الله تعالى ) هل تخرج شيء من زكاة المال أي النقد في المشاريع الخيرية كبناء مساجد أو عمارتها أو بناء مدارس أو الانفاق عليها ، أو أي شيء من المرافق العامة والنافعة للمسلمين، هل يجوز إخراج شيء لهذه الغايات ، وما هو مقدار الذي يصرف من الزكاة لهذه الغايات، كما بلغنا أن علماء الأزهر أو غيرهم أفتوا بالجواز فما هو الحجة والدليل، وهل يجوز نقل زكاة المال من بلد الى آخر، والمستحقين للزكاة في البلد الذي فيها المال الموجودين ....... الخ ؟ أفتونا مأجورين .( فأجاب بقوله) الحمد لله و صلى الله على سيدنا محمد و على آله و صحبه ، الجواب لا يجوز صرف الزكاة في شيء مما ذكره السائل من بناء المساجد و عمارتها ، أو بناء المدارس أو الانفاق عليها أو غير ذلك من المشاريع الخيرية وذلك لأن الله سبحانه و تعالى بنفسه في محكم كتابه تولى قسم الصدقات و لم يكل قسمتها إلى أحد غيره فجزأها لهؤلاء المذكورين بقوله { إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم (60) } التوبة .


وإنما للحصر والإثبات تثبت المذكور وتنفي ما عداه ، لأنها مركبة من حرفي نفي و إثبات –الى أن قال- فلا يجوز صرفها الى غير من ذكر الله تعالى في كتابه مما ذكر -الى أن قال- قال : في الشرح الكبير على متن المقنع من كتب الحنابلة ، ولا نعلم خلافا بين أهل العلم في أنه لا يجوز دفع هذه الزكاة الى غير هذه الأصناف الا ما روي عن أنس والحسن انهما قالا ما أعطيت في الجسور و الطرقات فهي صدقة ماضيه، قال والصحيح الأول ، لأن الله تعالى قال { إنما الصدقات .... الخ } ومثله في المغني لابن قدامة من كتبهم، وقد فسر الأئمة الأربعة الأصناف المذكورة في كتاب الله تعالى بتفاسير معروفة ، ومع اختلاف في بعضها ليس فيها ما يفيد شمول أحدها للمصالح العامة مما ذكره السائل ، نعم رأيت بأسفل مغني ابن قدامة الحنبلي المطبوع بأسفله الشرح الكبير على متن المقنع الذي اشرف على تصحيح طبعه السيد محمد رشيد رضا ، صاحب مجلة المنار على قول المقفع و شرحه السابع (في سبيل الله) وهم الغزاة الذين لا ديوان لهم هذا الصنف السابع من أصناف الزكاة و لا خلاف في استحقاقهم و بقاء حكمهم -الى أن قال- رأيت عن السيد محمد رشيد رضا على قول الشرح المذكور لأن سبيل الله عند الإطلاق هو الغزو ، ما لفظه هذا غير صحيح بل سبيل الله هو الطريق الموصل الى مرضاته و جنته و هو الإسلام في جملته ، وآيات الإنفاق في سبيل الله تشمل جميع أنواع النفقة المشروعة –الى أن قال- فلعل من قال بجواز دفع الزكاة الى من ذكر السائل من علماء الأزهر و غيرهم أخذ بقول السيد رشيد رضا هذا ، و لكن هذا مخالف لما قاله أهل المذاهب المعمول بها كما رأيته فيما نقلناه عن الشرح المذكور.

Bolehkah Zakat Digunakan untuk Proyek Amal?

Pertanyaan tentang bolehkah zakat digunakan untuk proyek amal seperti membangun masjid, sekolah, atau fasilitas umum lainnya telah diajukan. Jawabannya adalah tidak boleh menurut pendapat mayoritas ulama.

Alasan:

  • Allah SWT telah menentukan secara jelas dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 60 tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat.
  • Kata "innama" dalam ayat tersebut menunjukkan makna penegasan dan pembatasan, sehingga zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan yang disebutkan.
  • Para ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada selain delapan golongan tersebut.

Pendapat yang Berbeda:

  • Ada dua riwayat dari Anas dan Hasan yang mengatakan bahwa zakat boleh diberikan untuk pembangunan jembatan dan jalan.
  • Sayyid Muhammad Rasyid Rida dalam kitab Asy-Syarh al-Kabir 'ala Matn al-Muqni' menjelaskan bahwa "fi sabilillah" secara umum berarti jalan yang mengantarkan kepada ridha dan surga Allah SWT, yaitu Islam secara keseluruhan. Ayat-ayat tentang infak di jalan Allah SWT meliputi semua jenis infak yang diperbolehkan.

Kesimpulan:

  • Mayoritas ulama melarang penggunaan zakat untuk proyek amal seperti membangun masjid, sekolah, atau fasilitas umum lainnya.
  • Ada beberapa ulama yang membolehkannya dengan berpegang pada pendapat Sayyid Muhammad Rasyid Rida.
  • Perlu diingat bahwa zakat adalah hak bagi delapan golongan yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

 

مواهب الفضل من فتاوى با فضل - (ص 38-41)

في الزكاة ما قولكم ، رضي الله عنكم ، في إخراج الزكاة لنحو بناء مسجد و مدرسة و معهد ، و لنحو فرش المسجد ، و غيرها ، من المصالح العامة ، بدعوى أنها داخلة في سبيل الله ؟ و يقال إن القفال من الشافعية نقل عن بعض الفقهاء ، أنهم أجازوا صرف الزكاة إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى و بناء الحصون و عمارة المساجد ، لأن ذلك كله في سبيل الله ...... ؟ انتهى ما قيل عن القفال ، أفتونا أثابكم بما قاله العلماء في الموضوع على اختلاف المذاهب و الأقوال ، فإن المسألة واقعة حال والناس ما عندهم ورع و لا تورع ، و أحضرت الأنفس الشح ، و كلما عرض عليهم مشروع خيري أعطوه و حسبوه من الزكاة ، والله أعلم ! الحمد لله الجواب والله الهادي للصواب : لا يجوز إخراج الزكاة إلى ما ذكره السائل في السؤال من نحو بناء مسجد و غيره من المصالح العامة كما في الأنوار و المغني لابن قدامة الحنبلي لتعين صرفها إلى مستحقيها و لاتفاق الأئمة الأربعة رحمهم الله تعالى على عدم جواز إخراجها لذلك . قالوا : و المراد بقوله تعالى ( و في سبيل الله ) الغزاة ، إلا الإمام أحمد في أظهر روايتيه فإنه جعل من الحج كما نص عليه الإمام الشعراني في الميزان و الشيخ محمد بن عبد الرحمن الدمشقي العثماني الشافعي في كتابه كتاب الرحمة و الإمام النواوي رضي الله عنهم.

لكن قال الشيخ ابن حجر رحمه الله في التحفة : إن الحديث الذي استدل الإمام أحمد مخالف لما عليه أكثر العلماء ، و أجابوا عنه بعد تسليم صحته التي زعمها الحاكم ، و إلا فقد طعن فيه غير واحد ، بأن في مسنده مجهولا و عنعنة مدلس و بأن فيه اضطرابا بأنا لا نمنع أنه يسمى بذلك . و إنما النزاع في سبيل الله في الأية، و قوله ( لا تحل الصدقة إلا لخمسة ) و ذكر منها الغازي في سبيل الله صريح في أن المراد بهم فيها من ذكرناه إلى آخر ما أطال به في ذلك. و ما يقال عن القفال عن بعض الفقهاء مما ذكره السائل لم نره عنه فيما بأيدينا من المصادر . نعم، رأيت ذلك في تفسير الخازن عن بعض الفقهاء و قال بعده والقول الأول هو الصحيح لإجماع الجمهور عليه.

Bolehkah Zakat Digunakan untuk Bangunan dan Fasilitas Umum?

Pertanyaan ini menanyakan tentang boleh tidaknya menggunakan zakat untuk membangun masjid, sekolah, institut, perabotan masjid, dan kepentingan umum lainnya. Alasan yang dikemukakan adalah karena hal tersebut termasuk dalam kategori "fi sabilillah".

Pendapat Mayoritas Ulama:

Menurut mayoritas ulama, zakat tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang disebutkan di atas. Hal ini ditegaskan dalam kitab "Anwar" dan "Mughni" karya Ibnu Qudamah al-Hanbali.

Alasan:

  • Allah SWT telah menentukan secara jelas delapan golongan yang berhak menerima zakat dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 60.
  • Para imam dari empat mazhab sepakat bahwa zakat harus diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, bukan untuk kepentingan umum.

Makna "Fi Sabilillah":

  • Dalam ayat tentang zakat, kata "fi sabilillah" umumnya diartikan sebagai para mujahidin yang berjuang di jalan Allah.
  • Beberapa ulama, seperti Imam Ahmad, berpendapat bahwa "fi sabilillah" juga mencakup kegiatan haji. Namun, pendapat ini tidak disepakati oleh mayoritas ulama.

 

ولا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة كما نص عليه ابن الصلاح و نقل الإجماع عليه أي حتى في العمل لنفسه لعدم الثقة بنسبتها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف و التبديل ، وعليه فمن قلد غير الأئمة الأربعة في إخراج الزكاة و صرفها إلى غير مستحقيها من نحو بناء مسجد أو غيره من المصالح العامة مثلا لا تبرأ ذمته منها و يأثم إثما عظيما لأن صرفها لغير مستحقيها مما ذكره السائل كمنعها لأنه خالف الكتاب و السنة و إجماع العلماء في قولهم إن المراد بقوله تعالى : ( و في سبيل الله ) هم الغزاة و إليك الأدلة من كلامهم. قال في الأنوار : و لا يجوز الصرف في كفن الميت و دفنه و في بناء المسجد .... ( اهـ ).

Keharusan Mengikuti Empat Mazhab dalam Berzakat

Para ulama, seperti Ibnu ash-Salah, telah menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh mengikuti mazhab lain selain empat mazhab utama dalam masalah zakat. Hal ini juga ditegaskan oleh ijma' ulama, yaitu konsensus para ulama.

Keharusan mengikuti empat mazhab ini berlaku bahkan untuk diri sendiri. Alasannya, tidak ada jaminan bahwa pendapat di luar empat mazhab tersebut berasal dari para imam dengan sanad yang terhindar dari perubahan dan manipulasi.

Oleh karena itu, orang yang mengikuti pendapat di luar empat mazhab dalam mengeluarkan zakat dan memberikannya kepada selain orang yang berhak menerimanya, seperti membangun masjid atau kepentingan umum lainnya, tidak terbebas dari kewajibannya dan berdosa besar.

Hal ini dikarenakan mengeluarkan zakat untuk selain orang yang berhak menerimanya sama dengan menahannya, karena bertentangan dengan Al-Quran, Sunnah, dan ijma' ulama.

Sebagai contoh, Anwar, salah satu ulama, menyatakan bahwa zakat tidak boleh digunakan untuk mengkafani orang mati, menguburnya, dan membangun masjid.

Berikut beberapa dalil yang mendukung pernyataan di atas:

  • Al-Quran: "Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, ..."(QS. At-Taubah: 60)
  • Sunnah: Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, "Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat pada delapan asnaf." (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Ijma' ulama: Para ulama telah sepakat bahwa zakat hanya boleh diberikan kepada delapan asnaf yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengikuti empat mazhab dalam mengeluarkan zakat agar terhindar dari dosa dan memastikan zakatnya diterima oleh Allah SWT.


قال الكمثيري في حاشيته عليه لتعين صرفها إلى مستحقيها . و قال الشيخ ابن قدامة الحنبلي في مغنيه ما لفظه : ولا يجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر الله تعالى ، من بناء المساجد و القناطر و السقايات و إصلاح الطرقات و سد البثوق و تكفين الموتى و التوسعة على الأضياف و أشباه ذلك من القرب التي لم يذكرها الله تعالى ... اهـ. ثم استدل لذلك بقوله تعالى : ( إنما الصدقات للفقراء و المساكين ...) ، قال و إنما للحصر و الإثبات تثبت المذكور و تنفي ما عداه اهـ . و قال الإمام الشعراني في الميزان : اتفق الأئمة الأربعة على أنه لا يجوز إخراج الزكاة لبناء مسجد أو تكفين . ثم قال : و من ذلك قول الأئمة الثلاثة، إن المراد بقوله تعالى ( و في سبيل الله ) الغزاة مع قول أحمد في أظهر روايتيه أن منه الحج اهــ .


و قال الشيخ محمد الدمشقي في كتابه ( كتاب الرحمة ) بهامش الميزان : واتفقوا على أنه لا يجوز دفعها إلى عبده ثم قال : و اتفقوا على منع الإخراج لبناء مسجد أو تكفين ميت اهــ . و المراد بهم في قوله " واتفقوا " الأئمة الأربعة . و قال أيضا في كتاب الرحمة بعد عد بعض الأصناف ( و في سبيل الله ) الغزاة . و قال أحمد في أظهر الروايتين : الحج من سبيل الله اهـ . و قال الإمام النواوي في المجموع : و مذهبنا أن سهم سبيل الله المذكور في الآية الكريمة يصرف إلى الغزاة الذين لا حق لهم في الديوان ، بل يغزون متطوعين . و به قال أبو حنيفة و مالك رحمهما الله تعالى . و قال أحمد رحمه الله تعالى في أصح الروايتين عنه : يجوز صرفه إلى مريد الحج . و روي مثله عن ابن عمر رضي الله عنهما اهـ

Zakat harus diberikan kepada mustahik (penerima yang berhak) sesuai dengan ketentuan Al-Quran dan hadits.

Argumen:

  • Al-Kamitsiri menekankan bahwa zakat harus disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya.
  • Ibnu Qudamah al-Hanbali menjelaskan bahwa zakat tidak boleh digunakan untuk hal-hal di luar delapan golongan yang disebutkan dalam Al-Quran, seperti pembangunan masjid, jembatan, dan lain-lain.
    • Beliau menggunakan ayat yang menyebutkan "hanya untuk orang-orang fakir, miskin..." sebagai landasan. Kata "hanya" menunjukkan batasan dan penegasan.
  • Imam Syarani menyampaikan kesepakatan para Imam mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) bahwa zakat tidak boleh digunakan untuk membangun masjid atau mengkafani jenazah.
    • Alasan lainnya terkait dengan definisi "fi sabilillah" dalam Al-Quran.
  • Muhammad ad-Dimasyqi menegaskan kesepakatan para Imam mazhab tentang larangan penggunaan zakat untuk budak, pembangunan masjid, dan mengkafani jenazah.
  • Imam Nawawi menjelaskan bahwa "fi sabilillah" merujuk pada para mujahidin yang berjihad secara sukarela, bukan yang sudah mendapat gaji dari Baitul Maal.
    • Pendapat ini senada dengan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.
  • Imam Ahmad berpendapat bahwa zakat bisa diberikan kepada orang yang ingin berhaji, dan pendapat ini diriwayatkan juga dari Ibnu Umar.

 و قال السيد الإمام عبد الرحمن المشهور في بغية المسترشدين ما مثاله : مسألة ش نقل ابن الصلاح الإجماع على أنه لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة، أي حتى العمل لنفسه فضلا عن القضاء والفتوى، لعدم الثقة بنسبتها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف والتبديل، كمذهب الزيدية المنسوبين إلى الإمام زيد بن علي بن الحسين السبط رضوان الله عليهم، وإن كان هو إماما من أئمة الدين، وعلما صالحا للمسترشدين، غير أن أصحابه نسبوه إلى التساهل في كثير لعدم اعتنائهم بتحرير مذهبه، بخلاف المذاهب الأربعة فإن أئمتها جزاهم الله خيرا بذلوا نفوسهم في تحرير أقوالها، وبيان ما ثبت عن قائلها وما لم يثبت، فأمن أهلها التحريف، وعلموا الصحيح من الضعيف اهـ

Mengapa Sebaiknya Mengikuti Empat Mazhab yang Terkemuka

Syekh Abdul Rahman al-Masyhur dalam kitab Bughiyat al-Mustarsyidin menyoroti pentingnya mengikuti salah satu dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) dalam memahami ajaran Islam.

Alasan utama yang dikemukakan adalah kurangnya jaminan kesahihan dan kelestarian (sanad) ajaran di luar mazhab tersebut. Dengan kata lain, sulit dipastikan apakah pendapat yang dianut berasal langsung dari para imam atau sudah mengalami perubahan dan penafsiran yang tidak akurat.

Contoh yang diberikan adalah mazhab Zaidiyah. Meskipun didirikan oleh Imam Zaid yang dihormati, para pengikutnya tidak secara detail menjaga dan meneliti metodologi mazhab tersebut. Hal ini berakibat pada munculnya pemahaman yang longgar dalam berbagai hal yang mungkin menyimpang dari maksud awal Imam Zaid.

Sebaliknya, para imam dari empat mazhab yang mapan dikenal dengan ketelitian mereka dalam meneliti, menjelaskan, dan menjaga kemurnian ajaran yang mereka sampaikan. Mereka membedakan pendapat yang diyakini berasal langsung dari perkataan dan bukti yang ada, dengan pendapat yang kemungkinan belum tentu berasal dari mereka.

Kesimpulannya, mengikuti salah satu dari empat mazhab yang diakui menjamin kejelasan dan keamanan dalam menjalankan ajaran Islam. Hal ini disebabkan oleh metodologi yang terpelihara dan upaya para imam dalam menyampaikan pengetahuan agama secara akurat.

 

بغية الطالب للشيخ عبد الله الهرري - (ص 386-387) دار المشاريع

فدلنا حديث النبي وهو المبين لما أنزل الله في كتابه أن المراد بقول الله تعالى ( و في سبيل الله ) في آية الصدقات بعض أعمال البر لا كلها وهو الجهاد. و يدخل في سبيل الله عند الإمام أحمد من يريد الحج وهو فقير. و لم يقل إن كلمة ( و في سبيل الله ) تعم كل مشروع خيري أحد من الأئمة المجتهدين إنما ذلك ذكره بعض الحنفية من المتأخرين ليس من أصحاب أبي حنيفة الذين هم مجتهدون فحرام أن يؤخذ بقول هذا العالم . فليحذر من هؤلاء الذين يلمون أموال الزكوات باسم المستشفى أو بناء جامع أو بناء مدرسة هؤلاء حرام عليهم و حرام على الذين يعطونهم لأنه لو كان كل عمل خيري يدخل في قوله تعالى ( و في سبيل الله 60 ) سورة التوبة، ما قال الرسول (( ليس فيها حق لغني و لا لقوي مكتسب )) . و هؤلاء خالفوا الإجماع و قد نقل ابن حزم الإجماع على أنه لا يجوز دفع الزكاة لبناء المساجد، و الإجماع هو إجماع المجتهدين و لا يعتد في الإجماع بقول العلماء الذين لم يصلوا إلى مرتبة الإجتهاد كصاحب البدائع الكاساني الحنفي فإنه فسر في سبيل الله بجميع أعمال الخير، وصاحب البدائع هذا هو مقلد في المذهب الحنفي ابتدع ما ليس من المذهب وهو بعيد من مرتبة الاجتهاد فلا يعتبر قوله حجة في دين الله و تبعه بعض أهل العصر الذين لا يعتد بهم فهؤلاء لا يكونون حجة عند الله يوم القيامة . ولو كان يجوز دفع الزكاة لكل عمل خيري ما قال رسول الله في حديثه الصحيح المشهور (( تؤخذ من أغنيائهم و ترد إلى فقرائهم )) أما مطلق الأعمال الخيرية فتجوز في الغنى و الفقير وإن كانت التصدق على الفقير أفضل .

Hadits Nabi, yang menjelaskan apa yang diturunkan Allah dalam Kitab-Nya, menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan "fi sabilillah" dalam ayat tentang zakat adalah beberapa amal kebaikan, bukan semuanya, yaitu jihad.

 Menurut Imam Ahmad, orang yang ingin berhaji dan fakir termasuk dalam "fi sabilillah".

Tidak ada satupun imam mujtahid yang mengatakan bahwa kata "fi sabilillah" mencakup semua proyek amal. Hal ini hanya disebutkan oleh beberapa Hanafiyah dari kalangan mutaakhirin (ulama-ulama akhir), bukan dari kalangan sahabat Abu Hanifah yang merupakan mujtahid.

 Oleh karena itu, haram hukumnya mengambil pendapat ulama ini.

Hendaklah berhati-hati terhadap orang-orang yang mengumpulkan zakat atas nama rumah sakit, pembangunan masjid, atau pembangunan sekolah. Haram bagi mereka dan haram bagi orang-orang yang memberikan zakat kepada mereka.

 Jika semua amal kebaikan termasuk dalam "fi sabilillah" dalam ayat 60 Surat At-Taubah, maka Rasulullah tidak akan mengatakan, "Tidak ada hak di dalamnya bagi orang kaya dan orang kuat yang memiliki penghasilan".

 Orang-orang ini telah menyalahi ijma' (kesepakatan ulama). Ibnu Hazm meriwayatkan ijma' bahwa zakat tidak boleh dikeluarkan untuk membangun masjid. Ijma' ini adalah ijma' para mujtahid. Pendapat ulama yang belum mencapai derajat ijtihad tidak dihitung dalam ijma', seperti صاحب البدائع الكاساني (Sahib al-Badai' al-Kasani) dari kalangan Hanafi.

 Dia menafsirkan "fi sabilillah" dengan semua amal kebaikan. Sahib al-Badai' ini adalah seorang muqallid (pengikut) dalam mazhab Hanafi. Dia membuat bid'ah (perbuatan baru) yang tidak ada dalam mazhab dan dia jauh dari derajat ijtihad. Oleh karena itu, perkataannya tidak dianggap sebagai hujjah (bukti) dalam agama Allah.

Beberapa orang di zaman ini mengikutinya, tetapi mereka tidak dipedulikan. Orang-orang ini tidak akan menjadi hujjah di hadapan Allah pada hari kiamat.

 Jika zakat boleh dikeluarkan untuk semua amal kebaikan, maka Rasulullah tidak akan mengatakan dalam haditsnya yang sahih dan terkenal, "Zakat diambil dari orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang miskin mereka".

 Adapun amal kebaikan secara umum, boleh dilakukan oleh orang kaya dan orang miskin, meskipun bersedekah kepada orang miskin lebih utama.


WALLOHU A'LAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Rokok Sebagai Sedekah - Bahtsul Masail TJF

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sail : Jono (nama samaran) Deskripsi Masalah: Anwar membeli rokok, kemudian memberikannya kepada temannya dan menghadiahkan pahalanya kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Pertanyaan: 1.       Apakah boleh memberikan rokok sebagai sedekah? 2.       Apakah pahala sedekah rokok itu sampai kepada orang yang menerima sedekah rokok tersebut? Jawaban 1.        Menurut hukum dasar rokok, bersedekah rokok hukumnya makruh, sehingga tidak mendapatkan pahala. Namun, dari segi menggembirakan orang lain, bersedekah rokok dapat mendatangkan pahala. Tetapi, jika bersedekah rokok kepada orang yang merokok haram baginya, maka hukumnya menjadi haram. 2.       Mengikuti jawaban nomor 1 Penjelasan Hukum Merokok: Para ulama berbeda pendapat tentang hukum merokok: Mayoritas: Haram Sebagian: Makruh ...

Hukum Sholat Berjamaah Idul Fitri di Luar Masjid Penuh dengan Pintu Tertutup Rapat - Bahtsul Masail TJF

(gambar ilustrasi by: ANTARA News Aceh) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sail : Nazarudin (nama samaran) Deskripsi Masalah: Suatu hari, ketika melaksanakan sholat berjamaah Idul Fitri, kami menemukan beberapa masjid yang sudah penuh jamaah di dalamnya. Oleh karena itu, sebagian jamaah memilih untuk sholat di luar masjid dengan pintu masjid yang tertutup rapat. Alasan pintu masjid ditutup rapat adalah karena ruangan masjid ber-AC. Pertanyaan: Apakah sholat jamaah Idul Fitri bagi jamaah yang berada di luar masjid dengan pintu masjid tertutup rapat karena ruangan ber-AC hukumnya sah? Jawaban Hukum sholat jamaah Idul Fitri bagi makmum yang berada di luar masjid penuh adalah sah. Penjelasan: Referensi: Hasyiyah Al-Bajuri 'ala Al-Khatib (2/148): Menjelaskan bahwa sholat makmum di luar masjid sah jika memenuhi beberapa syarat, yaitu: Jarak antara makmum dan masjid tidak lebih dari 300 depa (sekitar 120 meter). Makmum ...