Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sail : Jono (nama samaran)
Deskripsi Masalah:
Anwar membeli rokok, kemudian memberikannya kepada temannya
dan menghadiahkan pahalanya kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia.
Pertanyaan:
1.
Apakah boleh memberikan
rokok sebagai sedekah?
2.
Apakah pahala sedekah rokok
itu sampai kepada orang yang menerima sedekah rokok tersebut?
Jawaban
- 1. Menurut hukum dasar rokok, bersedekah rokok hukumnya makruh, sehingga tidak mendapatkan pahala. Namun, dari segi menggembirakan orang lain, bersedekah rokok dapat mendatangkan pahala. Tetapi, jika bersedekah rokok kepada orang yang merokok haram baginya, maka hukumnya menjadi haram.
- 2. Mengikuti jawaban nomor 1
Penjelasan
Hukum Merokok:
- Para
ulama berbeda pendapat tentang hukum merokok:
- Mayoritas: Haram
- Sebagian: Makruh
tanzih (Madzhab Syafi'iyah)
- Wara': Tidak
merokok
- Hukum
Memperjualbelikan dan Menanam Tembakau:
- Haram: Bagi
ulama yang mengharamkan merokok
- Halal: Bagi
ulama yang menghalalkan merokok
- Pendapat
Syekh 'Ulaisy (Madzhab Maliki):
- Merokok
hukumnya berbeda-beda (halal atau haram)
- Sikap
wara': Tidak merokok
- Menjual
rokok hukumnya sama dengan hukum merokok
Hukum merokok masih menjadi
perdebatan di kalangan ulama. Mayoritas ulama mengharamkannya, sedangkan
sebagian lainnya menyatakan makruh tanzih. Ulama yang mengharamkan merokok juga
mengharamkan memperjualbelikan dan menanam tembakau.
{حاشية البيجوري، الجزء ١ الصحفة ٣٤٣}
(قوله : ولا بيع ما لا منفعة فيه) قيل منه
الدخان المعروف لأنه لا منفعة فيه بل يحرم استعماله لأن فيه ضررا كبيرا وهذا ضعيف
وكذا القول بأنه مباح
والمعتمد انه مكروه بل قد
تعتريه الوجوب كما اذا يعلم الضرر بتركه وحينئذ فبيعه صحيح، وقد تعتريه الحرمة كما
اذا كان يشتريه بما يحتاجه لنفقة عياله او تيقن ضرره اهـ
{قرة العين بفتاوى إسماعيل
الزين، الصحفة ٢٣٣}
إن شرب الدخان من حيث هو قد اختلف العلماء فيه فأكثرهم علي التحريم وبعضهم قال إنه مكروه كراهية تنزيه وهو معتمد الشافعية
كَانَ الاِخْتِلاَفُ
بَيْنَ الْفُقَهَاءِ بِالنِّسْبَةِ لِلدُّخَانِ هُوَ فِي بَيَانِ حُكْمِ شُرْبِهِ،
هَل هُوَ حَرَامٌ أَوْ مُبَاحٌ أَوْ مَكْرُوهٌ؟ ، وَكَانَ التَّعَرُّضُ لِبَيَانِ
حُكْمِ بَيْعِهِ أَوْ زِرَاعَتِهِ قَلِيلا عَلَى أَنَّهُ يُمْكِنُ أَنْ يُقَال فِي
الْجُمْلَةِ: إِنَّ الَّذِينَ حَرَّمُوهُ يَسْتَتْبِعُ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ حُرْمَةَ
بَيْعِهِ وَزِرَاعَتِهِ، وَالَّذِينَ أَبَاحُوهُ يُبَاحُ عِنْدَهُمْ بَيْعُهُ
وَزِرَاعَتُهُ٠
Jadi, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa:
- Bagi
ulama yang mengharamkan rokok, maka hukum memperjualbelikannya dan menanam
tembakaunya juga haram.
- Bagi
ulama yang menghalalkan rokok, maka hukum memperjualbelikannya dan menanam
tembakaunya juga halal.
يَقُول الشَّيْخُ
عُلَيْشٌ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ: الْحَاصِلُ أَنَّ الدُّخَّانَ فِي شُرْبِهِ
خِلاَفٌ بِالْحِل وَالْحُرْمَةِ، فَالْوَرَعُ عَدَمُ شُرْبِهِ، وَبَيْعُهُ
وَسِيلَةً لِشُرْبِهِ، فَيُعْطَى حُكْمَهُ٠
Syekh 'Ulaisy dari Madzhab Maliki berkata:
Kesimpulannya, hukum merokok itu berbeda-beda, ada yang menghalalkan dan ada
yang mengharamkannya. Oleh karena itu, sikap wara' (menjauhi hal-hal yang
syubhat) adalah dengan tidak merokok. Dan menjual rokok adalah sarana untuk
merokok, sehingga hukumnya sama dengan hukum merokok.
Sumber Bahtsul Masail dari : Grup WA TJF
Link Grup WA : https://chat.whatsapp.com/IYblj9KCsJw7sP1okKa4Mj
Halaman WA TJF : https://whatsapp.com/channel/0029VaXlYm12Jl8Cqxt2Nk39
.jpg)
Komentar
Posting Komentar