Langsung ke konten utama

HUKUM Berzakat kepada Santri yang Sedang Menuntut Ilmu - Bahtsul Masail TJF Hayyin


 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sail : Muhayat (nama samaran)

Deskripsi Masalah:

Pernah saya dengar bahwa santri di atas 15 tahun termasuk mustahiq zakat dengan kategori faqir. Alasannya, mereka tidak memiliki penghasilan tetap dan kebutuhannya tidak tercukupi. Meskipun mereka menerima uang banyak dari kiriman orang tua, kiriman tersebut tidak dikategorikan sebagai penghasilan dan bukan pula nafkah wajib karena mereka sudah baligh.

Pertanyaan:

Bolehkah berzakat kepada santri yang sedang menuntut ilmu ?

Jawaban

Hukum memberi zakat kepada Santri/orang yg sedang belajar Ilmu Syari'at itu diperbolehkan meski santri tersebut mampu untuk bekerja dengan syarat Santri tersebut bersungguh2 dalam belajarnya

Referensi Kitab:

المجموع شرح المهذب - ط المنيرية ٦/‏١٩٠ — النووي (ت ٦٧٦)

(وَأَمَّا) مَا لَا يَلِيقُ بِهِ فَهُوَ كَالْمَعْدُومِ قَالُوا وَلَوْ قَدَرَ عَلَى كَسْبٍ يَلِيقُ بِحَالِهِ إلَّا أَنَّهُ مُشْتَغِلٌ بِتَحْصِيلِ بَعْضِ الْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ بِحَيْثُ لَوْ أَقْبَلَ عَلَى الْكَسْبِ لَانْقَطَعَ عَنْ التَّحْصِيلِ حَلَّتْ لَهُ الزَّكَاةُ لِأَنَّ تَحْصِيلَ الْعِلْمِ فَرْضُ كِفَايَةٍ (وَأَمَّا) من لا يتأنى مِنْهُ التَّحْصِيلُ فَلَا تَحِلُّ لَهُ الزَّكَاةُ إذَا قَدَرَ عَلَى الْكَسْبِ وَإِنْ كَانَ مُقِيمًا بِالْمَدْرَسَةِ هَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ هُوَ الصَّحِيحُ الْمَشْهُورُ وَذَكَرَ الدَّارِمِيُّ فِي الْمُشْتَغِلِ بِتَحْصِيلِ الْعِلْمِ ثَلَاثَةَ أَوْجُهٍ (أَحَدُهَا) يَسْتَحِقُّ وَإِنْ قَدَرَ عَلَى الْكَسْبِ (وَالثَّانِي) لَا (وَالثَّالِثُ) إنْ كَانَ نَجِيبًا يُرْجَى تَفَقُّهُهُ وَنَفْعُ الْمُسْلِمِينَ بِهِ اسْتَحَقَّ وَإِلَّا فَلَا ذَكَرَهَا الدَّارِمِيُّ فِي بَابِ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ وَأَمَّا مَنْ أَقْبَلَ عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ وَالْكَسْبُ يَمْنَعُهُ مِنْهَا أَوْ مِنْ اسْتِغْرَاقِ الْوَقْتِ بِهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ الزَّكَاةُ بِالِاتِّفَاقِ لِأَنَّ مَصْلَحَةَ عِبَادَتِهِ قَاصِرَةٌ عَلَيْهِ بِخِلَافِ الْمُشْتَغِلِ بِالْعِلْمِ قَالَ أَصْحَابُنَا وَإِذَا لَمْ يَجِدْ الْكَسُوبُ مَنْ يَسْتَعْمِلُهُ حَلَّتْ لَهُ الزَّكَاةُ لِأَنَّهُ عَاجِزٌ

"Adapun apa yang tidak layak baginya, maka itu dianggap tidak ada. Mereka berkata: 'Seandainya dia mampu mencari penghasilan yang layak dengan keadaannya, tetapi dia sibuk mencapai sebagian ilmu-ilmu syar'i, sedemikian rupa sehingga jika dia berpaling untuk mencari penghasilan, maka dia akan terputus dari capaiannya, maka zakat dibolehkan baginya, karena mencari ilmu adalah fardhu kifayah.' Adapun orang yang tidak tekun dalam mencapai (ilmu), maka zakat tidak halal baginya jika dia mampu mencari penghasilan, meskipun dia tinggal di madrasah. Inilah yang kami katakan yang shahih dan masyhur. Al-Darimi menyebutkan tiga pendapat mengenai orang yang sibuk mencari ilmu: Pertama, dia berhak (menerima zakat) meskipun dia mampu mencari penghasilan. Kedua, tidak. Ketiga, jika dia orang yang cakap dan diharapkan bermanfaat bagi kaum muslimin dengan ilmunya, maka dia berhak. Jika tidak, maka tidak. Al-Darimi menyebutkannya dalam bab sedekah sunnah. Adapun orang yang berpaling kepada ibadah-ibadah sunnah, sedangkan mencari penghasilan menghalanginya darinya atau menghabiskan waktunya, maka zakat tidak halal baginya dengan kesepakatan, karena manfaat ibadahnya hanya untuk dirinya sendiri, berbeda dengan orang yang sibuk dengan ilmu. Para sahabat kami berkata: 'Jika orang yang mencari penghasilan tidak menemukan orang yang mempekerjakan dia, maka zakat halal baginya, karena dia dalam kondisi tidak berdaya.'.

 الموسوعة الفقهية الكويتية ٢٨/‏٣٣٦

اسْتِحْقَاقُ طَالِبِ الْعِلْمِ لِلزَّكَاةِ:

٤ - اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى جَوَازِ إِعْطَاءِ الزَّكَاةِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَقَدْ صَرَّحَ بِذَلِكَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ، وَالْحَنَابِلَةُ، وَهُوَ مَا يُفْهَمُ مِنْ مَذْهَبِ الْمَالِكِيَّةِ، إِذْ أَنَّهُمْ يُجَوِّزُونَ إِعْطَاءَ الزَّكَاةِ لِلصَّحِيحِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ، وَلَوْ كَانَ تَرْكُهُ التَّكَسُّبَ اخْتِيَارًا عَلَى الْمَشْهُورِ.

Hak Penerima Zakat bagi Penuntut Ilmu: Para fuqaha (ahli fikih) telah sepakat tentang bolehnya memberikan zakat kepada penuntut ilmu. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh madzhab Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali. Dan ini juga dapat dipahami dari madzhab Maliki, karena mereka membolehkan memberikan zakat kepada orang yang sehat dan mampu bekerja, meskipun ia memilih untuk tidak bekerja mencari nafkah, berdasarkan pendapat yang paling masyhur.

Keterangan :

 كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار ١/‏١٩٠ — تقي الدين الحصني (ت ٨٢٩)

وَفِي رِوَايَة (وَلَا لذِي قُوَّة مكتسب) وَلَو قدر على الْكسْب إِلَّا أَنه مشتغل بالعلوم الشَّرْعِيَّة وَلَو أقبل على الْكسْب لانقطع عَن التَّحْصِيل حلت لَهُ الزَّكَاة على الصَّحِيح الْمَعْرُوف وَقيل لَا يعْطى مُطلقًا ويكتسب وَقيل إِن كَانَ نجيبًا يُرْجَى تفقهه ونفعه اسْتحق وَإِلَّا فَلَا وَكَثِيرًا مَا يسكن الْمدَارِس من لَا يأتى مِنْهُ التَّحْصِيل بل هُوَ معطل نَفسه فَهَذَا لَا يعْطى بِلَا خلاف وَلَو كَانَ مُقبلا على الْعِبَادَة لَكِن الْكسْب يمنعهُ عَنْهَا

 “Seandainya seseorang mampu untuk bekerja namun dia disibukkan dengan ilmu syariat (belajar ngaji) yang seandainya dia disibukkan dengan bekerja maka tidak akan menghasilkan ilmu, maka diperbolehkan baginya untuk menerima zakat berdasarkan pendapat shohih yang sudah ma'ruf (diketahui)” (Kifayatul Ahyar : I/197)

 Tambahan keterangan :

 المجموع شرح المهذب - ط المنيرية ٦/‏١٩٠ — النووي (ت ٦٧٦)

(وَأَمَّا) الْكَسْبُ فَقَالَ أَصْحَابُنَا يُشْتَرَطُ فِي اسْتِحْقَاقِهِ سَهْمُ الْفُقَرَاءِ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ كَسْبٌ يَقَعُ مَوْقِعًا مِنْ كِفَايَتِهِ كَمَا ذَكَرْنَا فِي الْمَالِ وَلَا يُشْتَرَطُ الْعَجْزُ عَنْ أَصْلِ الْكَسْبِ قَالُوا وَالْمُعْتَبَرُ كَسْبٌ يَلِيقُ بِحَالِهِ وَمُرُوءَتِهِ (وَأَمَّا) مَا لَا يَلِيقُ بِهِ فَهُوَ كَالْمَعْدُومِ قَالُوا وَلَوْ قَدَرَ عَلَى كَسْبٍ يَلِيقُ بِحَالِهِ إلَّا أَنَّهُ مُشْتَغِلٌ بِتَحْصِيلِ بَعْضِ الْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ بِحَيْثُ لَوْ أَقْبَلَ عَلَى الْكَسْبِ لَانْقَطَعَ عَنْ التَّحْصِيلِ حَلَّتْ لَهُ الزَّكَاةُ لِأَنَّ تَحْصِيلَ الْعِلْمِ فَرْضُ كِفَايَةٍ

 “Seandainya seseorang mampu untuk bekerja sesuai dengan keahliannya namun dia disibukkan dengan mencari sebagian ilmu syariat yang seandainya dia bekerja maka akan sulit menghasilkan ilmu, maka diperbolehkan baginya untuk menerima zakat karena melakukan fadhu kifayah” (Majmu' Syarah Muhadzdzab : 6/177)

 KESIMPULAN keseluruhan Ibaroh:

Para ulama sepakat membolehkan memberikan zakat kepada penuntut ilmu agama.

Jika penuntut ilmu tersebut mampu bekerja tapi tidak melakukannya karena sibuk belajar, sehingga jika bekerja akan mengganggu proses belajarnya, maka dibolehkan baginya menerima zakat. Karena menuntut ilmu agama merupakan fardhu kifayah.

Namun, jika penuntut ilmu tersebut tidak sungguh-sungguh dalam belajar dan tidak diharapkan manfaatnya, maka tidak boleh diberi zakat meskipun ia tinggal di pesantren/madrasah.

Ada tiga pendapat mengenai penuntut ilmu yang mampu bekerja tapi tidak melakukannya:

a. Boleh diberi zakat

b. Tidak boleh diberi zakat

c. Boleh diberi zakat jika diharapkan bermanfaat, jika tidak maka tidak

Kesimpulannya, zakat boleh diberikan kepada penuntut ilmu yang serius dan diharapkan ilmunya bermanfaat, meskipun ia mampu bekerja. Tapi tidak boleh diberikan kepada penuntut ilmu yang malas dan tidak sungguh-sungguh.

Sumber Bahtsul Masail dari : Grup WA TJF

 

Link Grup WA : https://chat.whatsapp.com/IYblj9KCsJw7sP1okKa4Mj

 

Halaman WA TJF : https://whatsapp.com/channel/0029VaXlYm12Jl8Cqxt2Nk39

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Rokok Sebagai Sedekah - Bahtsul Masail TJF

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sail : Jono (nama samaran) Deskripsi Masalah: Anwar membeli rokok, kemudian memberikannya kepada temannya dan menghadiahkan pahalanya kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Pertanyaan: 1.       Apakah boleh memberikan rokok sebagai sedekah? 2.       Apakah pahala sedekah rokok itu sampai kepada orang yang menerima sedekah rokok tersebut? Jawaban 1.        Menurut hukum dasar rokok, bersedekah rokok hukumnya makruh, sehingga tidak mendapatkan pahala. Namun, dari segi menggembirakan orang lain, bersedekah rokok dapat mendatangkan pahala. Tetapi, jika bersedekah rokok kepada orang yang merokok haram baginya, maka hukumnya menjadi haram. 2.       Mengikuti jawaban nomor 1 Penjelasan Hukum Merokok: Para ulama berbeda pendapat tentang hukum merokok: Mayoritas: Haram Sebagian: Makruh ...

Hukum Sholat Berjamaah Idul Fitri di Luar Masjid Penuh dengan Pintu Tertutup Rapat - Bahtsul Masail TJF

(gambar ilustrasi by: ANTARA News Aceh) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sail : Nazarudin (nama samaran) Deskripsi Masalah: Suatu hari, ketika melaksanakan sholat berjamaah Idul Fitri, kami menemukan beberapa masjid yang sudah penuh jamaah di dalamnya. Oleh karena itu, sebagian jamaah memilih untuk sholat di luar masjid dengan pintu masjid yang tertutup rapat. Alasan pintu masjid ditutup rapat adalah karena ruangan masjid ber-AC. Pertanyaan: Apakah sholat jamaah Idul Fitri bagi jamaah yang berada di luar masjid dengan pintu masjid tertutup rapat karena ruangan ber-AC hukumnya sah? Jawaban Hukum sholat jamaah Idul Fitri bagi makmum yang berada di luar masjid penuh adalah sah. Penjelasan: Referensi: Hasyiyah Al-Bajuri 'ala Al-Khatib (2/148): Menjelaskan bahwa sholat makmum di luar masjid sah jika memenuhi beberapa syarat, yaitu: Jarak antara makmum dan masjid tidak lebih dari 300 depa (sekitar 120 meter). Makmum ...

Hukum pemberian zakat fitrah kepada guru ngaji

 Assalamu alaikum, +62 819-1410-5095 Deskripsi Masalah: Sebagai Muslim yang sehat lahir batin, diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Di penghujung Ramadhan, umat Islam diwajibkan pula untuk membayar zakat fitrah. Di suatu daerah, ada seorang Muslim yang memberikan zakat fitrah kepada guru ngajinya yang serba berkecukupan. Pertanyaan: Apakah ada dalil yang memperbolehkan pemberian zakat fitrah kepada guru ngaji seperti dalam deskripsi? Jawaban: Tidak ada dalil yang secara eksplisit memperbolehkan pemberian zakat fitrah kepada guru ngaji. Namun, ulama Syafi'iyah memasukkan guru ngaji, kyai, dan santri dalam konsep fuqoro' masakin (orang-orang fakir dan miskin). Oleh karena itu, mereka boleh menerima zakat maal/fitrah jika memenuhi kriteria fuqoro' masakin. Keterangan penting: Pendapat sebagian ulama yang dikutip oleh Imam Qoffal belum diketahui secara pasti siapa yang dimaksud.  Ada kemungkinan besar mengarah pada Imam Hasan dan Imam Anas bin Mal...